TREN.BISNISMARKET.COM - Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengumumkan keputusan penting dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan pada Juni 2026. Keputusan utama dalam rapat tersebut adalah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (Bps).
Kenaikan suku bunga ini melanjutkan tren pengetatan kebijakan moneter yang telah dilakukan BI sebelumnya. Tercatat, sejak Mei 2026, BI Rate telah mengalami peningkatan akumulatif mencapai 100 Bps, sehingga suku bunga acuan saat ini berada di level 5,75%.
Kebijakan penyesuaian suku bunga ini merupakan bagian integral dari mandat utama Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Langkah ini diambil sebagai respons proaktif terhadap dinamika ekonomi makro yang sangat menantang.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa prioritas utama BI adalah menjaga stabilitas di tengah tekanan global yang sangat besar. Meskipun demikian, BI tetap berkomitmen untuk memastikan langkah-langkah yang mendorong pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.
Selain instrumen suku bunga, bank sentral juga mengimplementasikan kebijakan makroprudensial untuk mendukung stabilitas tersebut. Kebijakan ini mencakup pemberian insentif kepada perbankan yang aktif menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.
Penyaluran kredit ke sektor prioritas tersebut hingga saat ini dilaporkan telah mencapai nilai signifikan, yaitu senilai Rp 420 Triliun. Upaya ini menunjukkan komitmen BI untuk menyeimbangkan antara stabilitas harga dan dukungan terhadap sektor riil unggulan.
Dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah penguatan Dolar Indeks, BI juga melakukan intervensi pada sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan. Terdapat juga kebijakan keringanan transaksi khusus bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
"Kebijakan suku bunga BI menjadi bagian dari mandat bank sentral untuk menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia," ujar Destry Damayanti. Pernyataan ini menekankan fokus BI pada fungsi utamanya sebagai otoritas moneter.
Destry Damayanti juga menjelaskan lebih lanjut mengenai strategi menghadapi guncangan eksternal, "Di tengah tekanan global yang sangat besar membuat BI memprioritaskan stabilitas dengan tetap memastikan langkah mendorong pertumbuhan," katanya.