TREN.BISNISMARKET.COM - Peningkatan minat investor terhadap investasi emas kembali terlihat seiring dengan adanya volatilitas harga komoditas global akibat ketegangan ekonomi dan geopolitik. Kondisi ini turut mendorong pertumbuhan bisnis perdagangan emas di Indonesia.

Di tengah tren ini, muncul pemain baru bernama Jual Emas Indonesia (JEI) yang menawarkan layanan jual beli logam mulia. Bisnis ini juga menerima pembelian emas dalam bentuk apa pun dari masyarakat.

JEI merupakan pengembangan dari bisnis perhiasan emas yang sudah berjalan sebelumnya, meskipun usianya terbilang masih sangat muda, yakni baru berjalan tiga bulan. Perkembangan ini menunjukkan adaptasi cepat terhadap dinamika pasar.

Founder Jual Emas Indonesia, Juansen, menyatakan bahwa fokus utama bisnis ini adalah menyasar segmen pasar ritel. Target audiensnya meliputi generasi milenial, Gen Z, hingga generasi Boomer.

"JEI berfokus pada pasar ritel utamanya yang menyasar segmen pasar milenial, Gen Z hingga Boomer," ujar Juansen.

Layanan yang ditawarkan JEI meliputi jual beli logam mulia, yang menunjukkan upaya untuk mendigitalisasi transaksi emas tradisional. Hal ini sejalan dengan pergeseran perilaku konsumen saat ini.

Kehadiran JEI di tengah ketidakpastian global memunculkan pertanyaan mengenai prospek bisnis mereka ke depan. Tantangan dalam menghadapi kondisi ekonomi yang fluktuatif menjadi sorotan utama.

Perkembangan strategi bisnis ini dibahas lebih mendalam dalam program Closing Bell di CNBC Indonesia pada hari Jumat, 19 Juni 2026. Diskusi ini mengupas tuntas bagaimana JEI memanfaatkan media sosial sebagai alat pemasaran utama.

"Selengkapnya simak dialog Mercy Widjaja dengan Founder Jual Emas Indonesia, Juansen dalam Closing Bell, CNBC Indonesia (Jum'at, 19/06/2026)," demikian informasi yang disampaikan.