TREN.BISNISMARKET.COM - Nilai tukar rupiah terpantau mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). Kondisi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang berdampak langsung pada stabilitas mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg, nilai tukar rupiah saat ini bertengger di level Rp 17.596 per dolar AS pada sore hari. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 68 poin atau terkoreksi sekitar 0,39 persen dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Dikutip dari Investor Daily, pergerakan pasar keuangan global saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika keamanan di Timur Tengah. Penguatan dolar AS menjadi konsekuensi logis dari ketidakpastian yang terjadi di jalur perdagangan vital dunia tersebut.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan pandangannya mengenai situasi ekonomi nasional yang sedang menghadapi tantangan berat. Beliau menyoroti bagaimana faktor eksternal mendominasi pergerakan nilai tukar saat Indonesia sedang berada dalam masa libur panjang.
"Kita melihat pada saat libur, dua hari ini, memang suatu ujian bagi Indonesia. Ada beberapa tensi geopolitik yang terus memanas terutama adalah di Selat Hormuz, antara AS dengan Iran," jelas Ibrahim Assuaibi.
Konflik di wilayah tersebut dilaporkan semakin meruncing setelah munculnya insiden yang melibatkan kapal kargo asal India dan Afrika yang menuju Uni Emirat Arab. Situasi kian kompleks dengan adanya tindakan Iran yang menahan sejumlah kapal setelah melaksanakan latihan militer dalam skala besar.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Interaksi kedua pemimpin negara besar tersebut menciptakan volatilitas tinggi karena berkaitan erat dengan kelancaran distribusi minyak mentah dunia.
Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa China memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi dari Iran yang melintasi Selat Hormuz. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi yang dapat melambungkan harga komoditas energi secara global.
"Ini secara geopolitik membuat dolar AS mengalami penguatan, harga minyak naik, rupiah melemah," ungkap Ibrahim Assuaibi.