TREN.BISNISMARKET.COM - Dua dekade pasca-tsunami dahsyat yang menghantam pesisir selatan Jawa Barat, peristiwa di Pangandaran pada 17 Juli 2006 terus menjadi pengingat krusial bagi Indonesia dalam memperkuat sistem mitigasi bencana. Bencana ini memicu pembenahan mendasar pada sistem peringatan dini tsunami dan meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya kesiapsiagaan.
Peristiwa monumental ini bermula dari gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada pukul 15:19 WIB. Gempa tersebut menjadi pemicu utama gelombang tsunami yang diperkirakan mencapai ketinggian 4 hingga 8 meter di kawasan Pangandaran.
Gelombang pasang yang mengerikan itu kemudian meluluhlantakkan garis pantai sepanjang 250 kilometer di pesisir selatan Jawa. Dampaknya terasa mulai dari Pangandaran, meluas ke Jawa Tengah bagian selatan, hingga merambah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tragedi Pangandaran ini merenggut nyawa 668 orang dan menyebabkan kerusakan parah pada ribuan rumah warga. Catatan kelam ini menempatkan tsunami Pangandaran sebagai salah satu gempa bumi dan tsunami paling mematikan di Indonesia, setelah bencana serupa di Aceh pada tahun 2004.
"Tsunami Pangandaran merupakan tsunami terbesar yang pernah terjadi di Pulau Jawa setelah gempa dan tsunami Banyuwangi pada tahun 1994," ujar Pepen Supendi, Ahli Seismologi Direktorat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG. Peristiwa ini juga menjadi contoh penting fenomena tsunami earthquake yang mengubah pemahaman ilmiah tentang mekanisme pembangkitan tsunami.
Pepen Supendi menjelaskan bahwa gempa Pangandaran dikategorikan sebagai tsunami earthquake karena proses patahannya berlangsung sangat lambat, menghasilkan energi berfrekuensi rendah. Akibatnya, guncangan yang dirasakan warga relatif lemah.
"Masyarakat di Pangandaran hanya merasakan guncangan sekitar 3-4 MMI, sehingga banyak yang menganggap gempa tersebut tidak berbahaya, karena guncangan itu hanya terasa seperti ada truk yang melintas," jelas Pepen Supendi. Namun, sekitar satu jam kemudian, gelombang tsunami dahsyat menerjang kawasan pesisir.
"Ketika Anda merasakan gempa yang cukup lama di kawasan pantai meskipun guncangannya relatif tidak sekuat gempa pada umumnya, itu boleh jadi pertanda bahwa itu adalah tsunami earthquake. Oleh karenanya segera menjauhi pantai karena setiap menit bahkan setiap detik itu bisa menyelamatkan nyawa kita semua," tegas Pepen Supendi.
Ketinggian tsunami di Pangandaran dan pantai selatan Jawa Tengah umumnya berkisar 5-10 meter. Namun, di kawasan Nusa Kambangan, ketinggian tsunami tercatat mencapai sekitar 21 meter.