TREN.BISNISMARKET.COM - Kesehatan fiskal Indonesia dilaporkan mengalami penurunan signifikan pada awal tahun 2026. Hal ini dipicu oleh pelemahan penerimaan negara yang berbarengan dengan lonjakan beban pembayaran bunga utang sepanjang triwulan I-2026.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menyampaikan bahwa indikator keuangan nasional menunjukkan tren memburuk. Kondisi ini bertolak belakang dengan narasi optimisme yang kerap disampaikan oleh pemerintah kepada publik mengenai stabilitas ekonomi.

"Kondisi fiskal Indonesia semakin memprihatinkan. Keuangan negara terus melemah," ujar Anthony Budiawan mengenai situasi terkini.

Penurunan tajam terlihat pada rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang hanya mencapai 9,3 persen. Angka ini disebut Anthony sebagai yang terendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN-7 lainnya.

Pada sisi lain, beban pembayaran bunga utang menunjukkan peningkatan signifikan, melonjak hingga mencapai 25,1 persen dari total penerimaan negara yang berhasil dikumpulkan.

"Siapa pun yang melihat rasio-rasio tersebut secara jernih akan mengatakan bahwa fiskal Indonesia sedang tidak sehat," kata Anthony Budiawan, menekankan urgensi peninjauan kondisi riil.

Anthony Budiawan mengkritik pola komunikasi pemerintah yang dinilai menciptakan persepsi keamanan keuangan negara. Hal ini kontras dengan fakta di lapangan dan berpotensi menimbulkan antipati dari masyarakat.

"Narasi seperti ini tidak membantu sama sekali," tuding Anthony Budiawan, menyoroti ketidaksesuaian antara pernyataan resmi dan data yang ada.

Kritik juga diarahkan pada rencana pemerintah untuk menerbitkan surat utang internasional di Tiongkok melalui skema Panda Bond. Hal ini terjadi setelah adanya kabar bahwa pemerintah menolak tawaran pinjaman luar negeri antara 25 hingga 35 miliar dolar AS pascakunjungan Menteri Keuangan Purbaya ke Washington DC.