TREN.BISNISMARKET.COM - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia tengah menghadapi tantangan signifikan yang berpotensi mengancam keberlanjutan sektor tersebut di masa mendatang. Tekanan ini muncul dari kombinasi faktor eksternal berupa depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
Faktor kedua yang memperburuk kondisi industri adalah maraknya praktik impor tekstil ilegal yang membanjiri pasar domestik. Kondisi ganda ini menciptakan persaingan tidak sehat bagi produsen lokal yang telah berupaya keras menjaga kualitas dan daya saing.
Asosiasi Pengusaha Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) secara terbuka menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai situasi yang kini dihadapi oleh para pelaku industri tekstil nasional. Mereka melihat adanya potensi krisis jika langkah-langkah mitigasi yang cepat tidak segera diambil oleh regulator.
Penyebab utama kekhawatiran ini adalah bagaimana pelemahan Rupiah secara langsung meningkatkan biaya bahan baku impor bagi pabrikan tekstil di dalam negeri. Kenaikan biaya produksi ini membuat produk lokal menjadi kurang kompetitif di pasar sendiri.
Oleh karena itu, APSyFI mengusulkan solusi konkret berupa pengetatan kebijakan devisa sebagai instrumen utama untuk mengatasi guncangan yang terjadi saat ini. Kebijakan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pergerakan modal dan mengurangi tekanan terhadap mata uang domestik.
"APSyFI peringatkan industri tekstil terancam akibat rupiah melemah dan impor ilegal," demikian pernyataan keras yang disampaikan oleh asosiasi tersebut mengenai situasi terkini di sektor TPT.
Lebih lanjut, asosiasi menekankan bahwa penerapan kebijakan devisa yang lebih ketat bukan hanya sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk mencegah potensi krisis yang lebih besar. Langkah ini diharapkan dapat menahan laju pelemahan Rupiah lebih lanjut.
"Kebijakan devisa ketat jadi kunci penyelamatan, cegah krisis," tegas perwakilan APSyFI mengenai urgensi intervensi kebijakan pemerintah dalam waktu dekat.
Tindakan tegas terhadap penyelundupan produk tekstil juga dianggap sama pentingnya dengan pengendalian devisa. Pengendalian impor ilegal menjadi prasyarat agar industri dalam negeri memiliki ruang bernapas yang memadai untuk bertahan dari gempuran harga barang luar negeri.