- TREN.BISNISMARKET.COM - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dengan tegas membantah informasi yang beredar mengenai pembelian lahan masyarakat di Papua dengan harga sangat murah untuk program pengembangan pertanian. Menurutnya, narasi tersebut adalah fitnah yang jauh dari kenyataan di lapangan.
Pernyataan bantahan ini disampaikan oleh Amran saat menghadiri perayaan Milad ke-65 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Dalam forum tersebut, Amran merespons langsung pertanyaan dari salah seorang peserta, Muhammad Tamim Setiaji, delegasi IPM dari Kota Tangerang Selatan. Tamim menyinggung adanya informasi yang menduga pengambilalihan lahan di Papua dengan nilai tukar kurang dari Rp100.000 per hektare.
"Fitnah itu bertebaran. Salah satunya harga tanah Rp100.000 per hektare. Itu fitnah yang sangat kejam terhadap pemerintah, termasuk kepada kami yang menjalankan program. Padahal faktanya sama sekali tidak demikian," ujar Menteri Amran.
Ia menjelaskan bahwa program pengembangan pertanian di Papua tidak melibatkan pengambilalihan hak kepemilikan tanah masyarakat. Pemerintah justru membangun lahan sawah yang tetap menjadi milik rakyat, serta menyediakan berbagai fasilitas pendukung produksi pertanian.
"Sawah itu milik rakyat. Tidak ada yang menjadi milik negara. Alat mesin pertanian kami berikan gratis. Irigasi kami bangun. Bahkan bantuan yang diberikan nilainya mencapai triliunan rupiah. Semua itu untuk masyarakat," tegasnya.
Menurut data yang disampaikan, pemerintah telah berhasil membangun sekitar 137.000 hektare lahan pertanian produktif di Papua. Selain itu, ratusan alat dan mesin pertanian telah disalurkan, membentuk Brigade Pangan, serta membangun jaringan irigasi yang memadai.
Pengembangan komoditas lokal seperti sagu dan kelapa juga menjadi fokus program ini. Amran menekankan bahwa berbagai informasi negatif yang beredar tidak mencerminkan pengalaman positif para penerima manfaat program.
"Petani di sana menyampaikan sendiri bahwa mereka mendapat lahan untuk dikelola dan penghasilannya meningkat hingga sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta per bulan. Traktor juga menjadi milik mereka. Ini fakta di lapangan," paparnya.