TREN.BISNISMARKET.COM - PT Garuda Indonesia saat ini menghadapi tantangan berat yang berpotensi menggerus kondisi keuangan perusahaan secara signifikan. Tantangan utama ini muncul dari kombinasi kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang melambung tinggi dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini semakin kompleks dengan adanya kebijakan baru dari pemerintah, di mana Kementerian Perhubungan telah memberikan izin kepada maskapai untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge. Kenaikan ini diizinkan hingga batas maksimal 50% dari tarif batas atas tiket pesawat domestik kelas ekonomi.

Keputusan tersebut diresmikan melalui Keputusan Menteri (KM) Nomor 1041 Tahun 2026, yang mulai diberlakukan sejak tanggal 13 Mei 2026. Pemerintah mengambil langkah ini sebagai upaya vital untuk memastikan keberlangsungan operasional industri penerbangan nasional di tengah lonjakan harga avtur domestik yang kini dilaporkan mencapai Rp29.116 per liter.

Implikasi langsung dari kebijakan ini adalah masyarakat perlu bersiap menghadapi potensi kenaikan harga tiket pesawat domestik dalam waktu dekat. Kenaikan tarif ini diharapkan dapat membantu maskapai menutupi lonjakan biaya operasional yang ditimbulkan oleh mahalnya avtur.

Di luar isu kenaikan tarif, Garuda Indonesia menghadapi persoalan struktural yang jauh lebih serius terkait dengan beban utang perusahaan. Maskapai milik negara ini masih menanggung beban utang jumbo yang mayoritas besarannya dicantumkan dalam denominasi dolar AS.

Situasi ini diperburuk oleh fakta bahwa nilai tukar rupiah tengah mengalami pelemahan tajam. Berdasarkan data Reuters pada Senin (18/5/2026), rupiah terperosok ke level Rp17.645 per dolar AS, menandai pelemahan sebesar 1,17% dibandingkan hari sebelumnya. Posisi ini bahkan tercatat sebagai level terendah sepanjang sejarah rupiah di pasar spot intraday.

Bagi Garuda Indonesia, pelemahan mata uang domestik ini merupakan mimpi buruk finansial yang nyata. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar kewajiban perusahaan, termasuk sewa pesawat, obligasi, dan pinjaman jangka panjang, semuanya terikat pada denominasi dolar AS.

Menurut posisi keuangan terbaru perusahaan, total liabilitas Garuda masih berada di angka US$7,33 miliar, meskipun telah mengalami sedikit penurunan dari sebelumnya yang mencapai US$7,97 miliar. Angka ini menegaskan besarnya tekanan finansial yang harus ditanggung perseroan saat proses restrukturisasi masih berjalan dan belum sepenuhnya rampung.

Beban terbesar perusahaan berasal dari liabilitas jangka panjang yang totalnya mencapai US$5,99 miliar. Salah satu komponen terbesar dalam pos ini adalah liabilitas sewa pembiayaan jangka panjang yang nilainya menyentuh US$2,03 miliar, yang secara langsung terkait dengan pembiayaan armada pesawat yang mereka gunakan.