TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan pemulihan signifikan di pasar _spot_ pada hari Rabu, 20 Mei 2026, setelah sempat berada di bawah tekanan selama beberapa hari sebelumnya. Mata uang Garuda berhasil menguat dan ditutup pada level Rp17.654 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kekuatan apresiasi rupiah ini dipicu langsung oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Keputusan ini merupakan langkah tegas otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar domestik.
Data dari Bloomberg, sebagaimana dilansir dari Investasi, menunjukkan bahwa apresiasi mata uang nasional mencapai 0,29 persen dari posisi penutupan hari sebelumnya di angka Rp17.703 per dolar AS. Penguatan ini juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang mematok rupiah pada level Rp17.685 per dolar AS.
Langkah BI untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga mencapai 5,25 persen dinilai sebagai sinyal kuat komitmen mereka dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Hal ini memberikan sentimen positif bagi para pelaku pasar domestik.
Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, memberikan pandangannya mengenai dampak kenaikan suku bunga tersebut. "Selain itu, rupiah juga terbantu oleh ekspektasi bahwa pemerintah dan BI akan lebih serius menjaga stabilitas makro," ujar Budi Frensidy.
Namun, menurut Budi, penguatan rupiah masih menghadapi tantangan berat dari faktor-faktor eksternal yang belum mereda. "Namun, penguatan masih terbatas karena dolar AS tetap kuat, _yield US Treasury_ tinggi, dan harga minyak masih berada di level tinggi akibat konflik Iran," ujar Budi Frensidy.
Sentimen positif domestik tidak hanya datang dari kebijakan moneter, tetapi juga dari respons positif pasar terhadap upaya efisiensi anggaran yang sedang dilakukan oleh pemerintah pusat. Sentimen internal ini mampu meredam dampak penguatan indeks dolar AS secara global.
Lukman Leong, _Chief Analyst Doo Financial Futures_, menggarisbawahi peran sentimen domestik dalam pergerakan ini. "Rupiah ditutup menguat meski indeks dolar AS masih melanjutkan kenaikan. Penguatan didorong sentimen positif domestik, terutama keputusan BI menaikkan suku bunga sebesar 50 bps," kata Lukman Leong.
Ke depan, pergerakan mata uang Garuda diprediksi masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama perkembangan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak mentah dunia. Jika tekanan eksternal mereda, instrumen BI Rate diharapkan mampu menarik kembali aliran modal asing ke pasar portofolio.