TREN.BISNISMARKET.COM - Pada Kamis pagi, 21 Mei 2026, harga Bitcoin (BTC) berhasil menunjukkan pemulihan signifikan dengan mencapai level US$ 77.000. Kenaikan ini terjadi di tengah berbagai tantangan pasar, termasuk arus keluar dana besar dari ETF Bitcoin spot serta adanya kekhawatiran mengenai potensi perlambatan ekonomi global.

Berdasarkan data yang dihimpun dari CoinMarketCap pada pukul 06.20 WIB, kapitalisasi pasar aset kripto global menunjukkan peningkatan sebesar 0,88%, menyentuh angka US$ 2,58 triliun. Sementara itu, nilai Bitcoin sendiri dilaporkan melonjak 0,73%, menempatkannya di posisi US$ 77.407 per koin, yang setara dengan sekitar Rp 1,36 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.665.

Perkembangan positif ini juga tercermin pada Indeks CoinDesk 20, yang mengindikasikan kinerja baik dari 20 aset kripto terbesar, dengan kenaikan sebesar 0,99%. Beberapa altcoin utama ikut menguat, seperti Ethereum yang naik 0,51% ke US$ 2.124, Binance Coin (BNB) yang melejit 1,25% di US$ 648, dan Solana (SOL) yang melesat 1,81% ke US$ 85.

Momen penguatan harga ini terjadi setelah meredanya tekanan jual yang sempat terlihat di pasar global, salah satunya dipicu oleh penurunan harga minyak mentah Brent di bawah US$ 108 per barel. Namun, para pelaku pasar tetap mempertahankan kewaspadaan tinggi mengingat adanya tren penarikan dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang telah menembus angka US$ 2 miliar dalam sepekan terakhir.

Aktivitas penarikan dana dari ETF tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor bahwa koreksi harga Bitcoin dapat kembali terjadi, berpotensi menembus kembali level psikologis US$ 75.000. Dilansir dari Investor Daily, pergerakan aset digital ini juga terlihat mengikuti arah indeks saham small cap Amerika Serikat, Russell 2000, yang menegaskan betapa kuatnya pengaruh sentimen makroekonomi terhadap pasar kripto.

Fokus investor kini mulai terbagi karena adanya perhatian terhadap sektor kecerdasan buatan menjelang rilis laporan kinerja dari Nvidia. Pasar mulai mencermati potensi persaingan dari raksasa teknologi lain seperti Google, AMD, dan Amazon yang dikhawatirkan dapat mengikis dominasi Nvidia dalam industri AI.

Selain itu, pasar aset digital juga menghadapi tantangan signifikan akibat melemahnya permintaan yang berasal dari wilayah China. Hal ini terlihat dari nilai stablecoin yang diperdagangkan dengan diskon sekitar 0,4% terhadap kurs resmi yuan China, menandakan minimnya minat beli dari investor lokal di sana.

Kondisi diskon stablecoin di China merupakan indikasi peningkatan tekanan jual yang tidak biasa, mengingat kontrol modal yang ketat di negara tersebut biasanya menyebabkan stablecoin diperdagangkan pada level premium. Faktor penekan lainnya adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan tingginya harga energi global, yang membatasi ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve karena kekhawatiran inflasi.

Perlu diperhatikan pula dinamika di pasar derivatif platform Deribit, di mana permintaan terhadap opsi jual (put option) Bitcoin melonjak tajam, mencapai 42% lebih tinggi dibandingkan opsi beli (call option). Analis menilai dinamika ini mencerminkan adanya kebutuhan investor untuk melakukan proteksi risiko, meskipun penurunan harga yang terjadi saat ini dinilai sebagai reaksi jangka pendek dan bukan merupakan tren bearish struktural yang berkepanjangan.