TREN.BISNISMARKET.COM - Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diterapkan setiap hari Jumat sejak 1 April 2026 telah memberikan pukulan telak bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Kebun Sirih, Jakarta Pusat. Penurunan signifikan jumlah pembeli pada hari Jumat memaksa para pedagang mengambil langkah drastis, termasuk memangkas stok dagangan harian dan menyesuaikan gaji karyawan untuk menjaga kelangsungan usaha.
Kondisi sulit ini sangat dirasakan oleh pedagang yang berjualan di Jalan Kebun Sirih Barat II, tepat di depan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Para pelaku usaha tersebut kini mulai mengadaptasi strategi dagang mereka dengan mengurangi porsi masakan dan mulai mencoba memanfaatkan penjualan melalui platform daring.
Hani, salah satu pemilik warung makanan, mengungkapkan bahwa hari Jumat yang biasanya menjadi puncak kunjungan pelanggan kini berubah menjadi hari yang sangat sepi. Ia menyebutkan bahwa penurunan pendapatan di kiosnya bisa mencapai angka 70 hingga 80 persen jika dibandingkan dengan hari kerja normal lainnya.
"Hari Jumat kan biasanya ramai karena ada kegiatan olahraga senam dari Pemda, kemudian dilanjutkan dengan makan siang setelah salat Jumat, kalau sekarang pengunjung paling hanya bisa dihitung jari," ujar Hani, pedagang warung makanan.
Hani bahkan membandingkan situasi saat ini dengan masa pandemi COVID-19, di mana ia merasa kondisi sekarang terasa lebih berat. Meskipun pendapatan merosot tajam, ia memilih untuk tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap tujuh pegawainya, meskipun terpaksa melakukan penyesuaian pada besaran upah mereka.
"Sedih-sedihnya mending waktu COVID karena waktu itu masih bisa tersenyum, kalau sekarang terasa banget dampaknya," kata Hani.
Lusi, pedagang makanan lainnya di kawasan yang sama, juga melakukan langkah efisiensi dengan memangkas stok ayam goreng hariannya. Pendapatan harian yang biasanya mencapai Rp 1,5 juta kini menyusut hingga hanya berkisar Rp 800.000 per hari akibat sepinya pembeli dari kalangan pegawai kantoran.
"Biasanya saya menyiapkan 60 potong ayam, sekarang cuma 40 potong. Itu pun belum tentu habis di hari Jumat karena mayoritas pembeli di sini adalah pegawai kantor," ujar Lusi, pedagang makanan.
David, pedagang pecel lele, mengambil strategi berbeda dengan mulai memanfaatkan platform digital untuk menutupi kehilangan pendapatan harian yang diperkirakan mencapai Rp 300.000. Ia mulai mengurangi stok bahan baku hingga separuh dari jumlah normal untuk menghindari kerugian.