TREN.BISNISMARKET.COM - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan kekhawatiran mendalam atas keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%. Kenaikan ini diyakini akan memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor pembiayaan kredit di Indonesia.
Sektor-sektor yang sangat bergantung pada pembiayaan kredit dan konsumsi masyarakat berbasis cicilan diprediksi menjadi pihak yang paling sensitif terhadap kebijakan moneter ini. Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menyoroti potensi perlambatan di sektor-sektor tersebut.
Shinta merinci bahwa sektor properti dan real estate, otomotif, konstruksi, manufaktur padat modal, serta UMKM yang bergantung pada modal kerja perbankan akan merasakan tekanan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan biaya dana yang harus ditanggung oleh para pelaku usaha.
Presiden Prabowo Pacu Percepatan Akad Massal Rumah Subsidi, Targetkan 62.000 Unit di Juli 2026
"Di sektor properti misalnya, kenaikan bunga KPR berpotensi menahan permintaan rumah, khususnya kelas menengah. Sementara di sektor otomotif, kenaikan bunga kredit kendaraan dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen," kata Shinta ketika dihubungi, Selasa (9/6/2026).
Selain itu, sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor akan menghadapi tekanan ganda yang memberatkan. Tekanan tersebut datang dari kenaikan biaya impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya pembiayaan yang menyertai kenaikan BI Rate.
Kondisi tersebut, menurut Apindo, berpotensi mempersempit margin usaha perusahaan dan secara langsung menekan kemampuan mereka untuk merealisasikan rencana ekspansi bisnis. Dampak ini juga meluas ke daya beli masyarakat karena beban cicilan rumah, kendaraan, maupun kredit konsumsi berpotensi meningkat.
"Ketika konsumsi rumah tangga melambat, maka sektor usaha yang bergantung pada permintaan domestik juga akan terdampak," ujarnya.
Para pelaku usaha juga tengah bergulat dengan tantangan high cost of doing business yang berasal dari pelemahan rupiah, kenaikan biaya logistik global, harga energi, hingga biaya kepatuhan. Kenaikan suku bunga acuan ini menambah daftar panjang beban pendanaan.
"Kenaikan suku bunga acuan pada akhirnya akan diteruskan secara bertahap ke suku bunga kredit perbankan, baik kredit modal kerja maupun kredit investasi," ucapnya.