TREN.BISNISMARKET.COM - Nilai komoditas emas dunia tercatat mengalami penurunan signifikan menyusul adanya perkembangan terbaru dalam dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan ini terjadi seiring dengan langkah militer yang diambil oleh Amerika Serikat berupa serangan udara baru di wilayah Iran.
Peristiwa ini berdampak langsung pada pasar komoditas, di mana ketegangan geopolitik yang meningkat mendorong lonjakan harga minyak mentah global. Kenaikan harga energi tersebut lantas memicu kekhawatiran pasar yang lebih luas mengenai potensi risiko inflasi global yang kembali meningkat.
Harga emas spot menunjukkan pelemahan sebesar 0,69 persen pada perdagangan Selasa pagi, berada di posisi US$ 4.538,26 per ons troi. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman bulan Juni juga terkoreksi sebesar 0,73 persen, mencapai level US$ 4.571,4 per ons troi.
Tekanan jual di pasar logam mulia ini terjadi setelah pasukan Amerika Serikat melakukan serangan terhadap sejumlah titik di wilayah selatan Iran pada hari Senin. Menurut informasi yang beredar, operasi militer tersebut diklaim Washington sebagai langkah defensif.
Operasi militer yang berlangsung tersebut dilaporkan menargetkan kapal yang diduga hendak memasang ranjau serta lokasi peluncuran rudal di kawasan tersebut. Hal ini berdasarkan informasi yang dikutip dari Reuters mengenai sasaran serangan militer AS.
Meskipun eskalasi militer terjadi, proses diplomasi masih berlangsung di Doha melalui pertemuan antara negosiator utama Iran dan Menteri Luar Negeri Iran dengan Perdana Menteri Qatar. Meskipun demikian, optimisme pasar terhadap penyelesaian damai dalam waktu dekat masih teredam.
Pihak Washington maupun Teheran telah meredam ekspektasi pelaku pasar mengenai peluang penyelesaian damai dalam waktu dekat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan. Situasi ini menjaga ketidakpastian di pasar energi dan logam mulia.
Aksi militer di Timur Tengah secara langsung memicu kenaikan harga minyak mentah dunia hingga hampir 2 persen dalam sesi perdagangan Asia. Lonjakan harga energi ini memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi global akan kembali merangkak naik dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi.
Proyeksi pasar yang dipantau melalui CME FedWatch Tool menunjukkan adanya peluang sebesar 54 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun 2026. Suku bunga yang tinggi menjadi sentimen negatif bagi emas karena statusnya sebagai aset tanpa imbal hasil.