TREN.BISNISMARKET.COM - Indonesia tengah mengintensifkan upaya strategis untuk bertransformasi dari pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara menjadi pusat industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) di kawasan Asia. Langkah ambisius ini menjadi fokus utama dalam gelaran Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 yang diselenggarakan di Batam.

Agenda bersama untuk membangun ekosistem MRO nasional yang lebih kompetitif telah disuarakan oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku industri, regulator, pemerintah, dan pengelola kawasan investasi. Tujuannya adalah memastikan perawatan pesawat bernilai tinggi dapat dilakukan di dalam negeri.

Menurut Ketua IAMSA sekaligus Dirut GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi, Indonesia memiliki modal awal yang kuat untuk mendominasi sektor MRO regional. Modal tersebut meliputi pasar domestik yang besar, pertumbuhan armada pesawat, serta lokasi geografis yang sangat strategis.

"Kalau untuk segmen airframe atau hanggar, sekitar 90% sudah bisa dikerjakan di Indonesia. Tantangan terbesar kita sekarang ada di komponen dan engine karena investasinya sangat besar dan masih didominasi pemain luar," ungkap Andi Fahrurrozi saat berbicara di IMROS 2026 pada Selasa (9/6/2026).

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun kapasitas hanggar sudah memadai, terdapat ketergantungan signifikan pada layanan luar negeri untuk perawatan bernilai tinggi. Dikutip dari Bisnis.com, sekitar 46% perawatan armada nasional saat ini masih harus dilakukan di luar negeri, terutama untuk mesin dan komponen pesawat.

Lebih lanjut, ketergantungan impor komponen pesawat mencapai angka yang sangat tinggi, yakni sekitar 93%, yang secara langsung memengaruhi daya saing biaya industri nasional. Selain itu, isu regulasi seperti bea masuk dan klasifikasi HS code yang belum sesuai karakter penerbangan turut menghambat efisiensi logistik.

"Selain itu, industri juga menyoroti pengenaan pajak berlapis dari hulu hingga hilir yang membebani arus kas maskapai maupun perusahaan MRO," tambah Andi Fahrurrozi mengenai hambatan fiskal yang dihadapi pelaku industri.

Menanggapi hal tersebut, Rustam Efendi dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menekankan bahwa MRO harus dilihat sebagai bagian integral dari sistem konektivitas nasional. Ia menyoroti peran penting kecepatan logistik sebagai pembeda utama dengan negara kompetitor seperti Singapura.

"Kita negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Karena itu pendekatannya membangun beberapa titik hub dan pusat kargo yang saling terintegrasi," ujar Rustam Efendi menjelaskan strategi yang harus diterapkan Indonesia berbeda dari negara lain.