TREN.BISNISMARKET.COM - Harga emas global mencatatkan tren penurunan pada penutupan perdagangan hari Rabu, 13 Mei 2026, waktu setempat. Pelemahan ini menandai dua hari berturut-turut aset lindung nilai ini mengalami koreksi nilai di pasar internasional.
Penurunan ini dipicu oleh gabungan faktor, termasuk kekhawatiran berkelanjutan mengenai inflasi di Amerika Serikat serta adanya rencana kebijakan perdagangan internasional baru. Emas spot tercatat merosot sebesar 0,6 persen, menembus angka 4.686,435 dollar AS per ons pada penutupan hari itu.
Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat juga turut tertekan, menyusut 0,4 persen hingga mencapai level 4.706,70 dollar AS per ons selama periode perdagangan yang sama. Faktor-faktor ini secara kolektif mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi aman.
Kekhawatiran akan lonjakan inflasi di AS diperkuat oleh data harga produsen bulan April 2026 yang melampaui ekspektasi pasar. Data ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan inflasi masih berlanjut, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran.
Kondisi fundamental ini memperkuat spekulasi mengenai arah suku bunga acuan Federal Reserve yang diprediksi akan bertahan tinggi lebih lama. Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil langsung menjadi kurang menarik bagi investor ketika suku bunga tinggi.
"Dan itu telah menekan harga emas dalam dua hari terakhir," jelas Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, mengenai dampak inflasi terhadap pergerakan harga emas.
Keputusan Federal Reserve sebelumnya untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen juga turut berperan dalam sentimen pasar saat ini. Walaupun emas sering dianggap pelindung inflasi, suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang bagi pemegang emas.
Selain isu domestik Amerika Serikat, pasar juga bereaksi terhadap kebijakan Pemerintah India yang menaikkan tarif impor untuk emas dan perak. Negara konsumen emas terbesar kedua di dunia ini menaikkan tarif dari 6 persen menjadi 15 persen guna mengendalikan cadangan devisa negara.
Kebijakan impor India ini diprediksi akan memiliki dampak luas pada volume perdagangan fisik logam mulia di kawasan Asia. "Menurut Grant, kenaikan tarif impor di India berpotensi menekan permintaan emas dalam panjang," kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.