TREN.BISNISMARKET.COM - Pada bulan Mei 2026, Amerika Serikat menghadapi lonjakan tingkat inflasi yang mencapai level tertinggi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, menurut data resmi yang dirilis. Data dari Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 4,2%, naik tipis dari angka 3,8% pada bulan April 2026.
Kenaikan signifikan ini sebagian besar dipicu oleh melonjaknya biaya energi, sebuah konsekuensi langsung dari pecahnya konflik militer antara AS dan Israel melawan Iran. Peningkatan harga kebutuhan energi tersebut mulai memberikan tekanan nyata pada daya beli rumah tangga di seluruh negeri.
Di tengah situasi ekonomi yang menantang ini, Presiden AS Donald Trump menyampaikan tanggapan yang tidak biasa mengenai kenaikan inflasi tersebut. Dalam sebuah pernyataan di Gedung Putih, ia mengungkapkan rasa senang atas data yang dirilis.
"Saya menyukainya. Angkanya sangat bagus. Tahu apa yang benar-benar saya suka? Saya suka inflasi," ujar Trump di Gedung Putih, seperti dikutip BBC, Kamis (11/6/2026).
Namun, Trump segera memberikan klarifikasi bahwa kenaikan harga tersebut diperkirakan akan mereda begitu konflik dengan Iran berakhir. Pada hari yang sama, militer AS dilaporkan kembali melancarkan serangan balasan terhadap posisi di Iran.
Ia juga mengaitkan adanya sedikit penurunan harga minyak dunia dengan operasi militer yang dilakukan pasukan AS untuk mengambil "jutaan barel" minyak dari Iran. Trump meyakini harga energi akan segera kembali ke level pra-perang setelah ketegangan mereda.
"Ketika konflik ini selesai… Anda akan melihat harga minyak turun ke level sebelum perang," katanya kepada wartawan di Gedung Putih.
Lebih lanjut, Trump mengingatkan wartawan akan kunjungannya ke Iowa pada awal 2026, di mana harga bensin sempat berada di level US$1,85 per galon, dan berjanji harga tersebut akan segera tercapai kembali. Dilansir dari BBC, harga minyak acuan global Brent crude saat ini masih diperdagangkan jauh di atas level tersebut.
Dilansir dari New York Post, Trump kemudian menyatakan bahwa pernyataan kontroversialnya tersebut telah diambil di luar konteks. Menurutnya, yang ia maksud adalah inflasi masih "jauh lebih rendah dari perkiraan" meskipun perang dengan Iran terus berlangsung.