TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir menerapkan blokir akses bagi China untuk mendapatkan teknologi chip mutakhir dari Negeri Paman Sam. Ironisnya, langkah pembatasan tersebut kini justru menuai respons apresiasi dari pihak Beijing.
Huawei, salah satu perusahaan teknologi raksasa yang masuk dalam daftar hitam perdagangan AS, menyatakan bahwa pembatasan ekspor chip yang diterapkan Washington menjadi katalisator penting bagi kebangkitan industri semikonduktor China secara keseluruhan.
Xu Zhijun, Chairman Bergilir sekaligus Wakil Chairman Huawei, mengungkapkan bahwa sanksi dan pembatasan teknologi yang diberlakukan oleh AS telah memaksa perusahaan-perusahaan di China untuk mempercepat laju inovasi mereka. Hal ini juga mendorong pembangunan rantai pasok semikonduktor domestik yang jauh lebih kokoh dan mandiri.
"Jika Amerika Serikat tidak menekan negara kami, perusahaan kami, dan industri kami, kami tidak akan melakukan hal seperti ini. Namun kami juga berterima kasih kepada AS karena telah memungkinkan rantai industri semikonduktor negara kami benar-benar berkembang," kata Xu Zhijun dalam sebuah wawancara, Dikutip dari Toms Hardware, Rabu (10/6/2026).
Huawei telah menjadi salah satu sasaran utama kebijakan pembatasan teknologi AS sejak tahun 2019, ketika pemerintahan Donald Trump memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar hitam perdagangan. Pembatasan ini secara signifikan membatasi akses Huawei terhadap teknologi dan pasar Amerika Serikat.
Tekanan Washington terhadap sektor teknologi China semakin diperketat pada tahun 2022 di bawah pemerintahan Joe Biden, yang memberlakukan kontrol ekspor ketat terhadap chip kecerdasan buatan (AI) canggih. Kebijakan ini secara spesifik melarang perusahaan China mengakuisisi GPU kelas atas dari produsen seperti Nvidia (A100, H100) dan AMD (Instinct MI250 dan MI250X).
Sebagai konsekuensi langsung dari pembatasan tersebut, banyak perusahaan teknologi China mengambil langkah strategis dengan beralih sepenuhnya ke produk semikonduktor buatan dalam negeri. Meskipun performa chip domestik tersebut masih tertinggal dibandingkan produk Nvidia atau AMD, lonjakan permintaan domestik ini justru memperkuat kemampuan riset dan pengembangan (R&D) mereka.
Pemerintah China menunjukkan dukungan penuh terhadap upaya kemandirian semikonduktor dengan memberikan arahan tegas kepada perusahaan teknologi domestik untuk memprioritaskan pembelian chip lokal. Beijing bahkan dikabarkan telah mengambil langkah lebih jauh dengan meminta petugas bea cukai untuk memblokir masuknya chip AI H200 dan memperluas pembatasan hingga mencakup GPU gaming seperti RTX 5090D V2.
Di sisi lain, Jensen Huang, CEO Nvidia, telah berulang kali menyuarakan peringatan bahwa pelarangan ekspor chip AI ke China dapat menjadi bumerang yang merugikan AS. Menurut pandangannya, pembatasan tersebut secara tidak langsung mendorong perusahaan-perusahaan China untuk segera mengakselerasi pengembangan teknologi alternatif mereka sendiri.