TREN.BISNISMARKET.COM - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti dampak signifikan dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Green 95, terhadap dunia usaha nasional. Kenaikan ini diperkirakan akan menambah tekanan biaya pada berbagai sektor, mulai dari logistik, transportasi, manufaktur, hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Peristiwa ini terjadi di tengah tantangan pemulihan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat, ditambah dengan tingginya biaya logistik yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini membuat kenaikan BBM nonsubsidi menjadi isu krusial bagi kelangsungan operasional bisnis.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyampaikan pandangan organisasinya mengenai isu ini. Ia menegaskan bahwa penyesuaian harga tersebut memberikan beban tambahan yang signifikan bagi pelaku usaha di Indonesia.
"Bagi pelaku usaha, dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi kenaikan biaya transportasi dan distribusi, tetapi juga biaya operasional harian secara keseluruhan," kata Erwin kepada Bisnis pada Rabu (10/6/2026).
Erwin Aksa mengidentifikasi sektor-sektor yang paling rentan menghadapi dampak negatif dari kenaikan harga BBM nonsubsidi ini. Sektor-sektor tersebut meliputi logistik, transportasi, industri manufaktur padat karya, ritel, UMKM yang bergerak di bidang distribusi, serta industri makanan dan minuman yang sangat bergantung pada mobilitas dan rantai pasok yang lancar.
Selain kenaikan biaya operasional langsung, dunia usaha juga mencemaskan potensi munculnya efek berantai yang dapat memicu inflasi. Kekhawatiran utama adalah meningkatnya harga barang dan jasa secara umum, yang pada akhirnya akan berdampak negatif pada daya beli masyarakat konsumen.
Dalam situasi di mana tekanan biaya terus meningkat, pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit untuk melakukan efisiensi operasional. Namun, ruang untuk efisiensi tersebut semakin sempit karena banyak industri sudah dibebani oleh kenaikan biaya bahan baku dan pembiayaan.
"Jika tekanan biaya terus meningkat, sebagian pelaku usaha pada akhirnya akan menghadapi dilema antara menahan margin usaha atau melakukan penyesuaian harga jual," ucap Erwin.
Menyikapi situasi ini, Kadin mendorong pemerintah untuk segera merumuskan langkah-langkah mitigasi yang efektif. Tujuannya adalah mencegah dampak kenaikan harga BBM meluas dan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi serta pelemahan konsumsi domestik.