TREN.BISNISMARKET.COM - Permintaan perjalanan global, termasuk sektor wisata muslim atau halal, diperkirakan akan mempertahankan tren kuat sepanjang tahun ini. Proyeksi ini muncul meskipun lanskap internasional tengah dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik serta tekanan ekonomi yang dipicu oleh lonjakan harga energi dunia.

David Mann, Chief Economist Mastercard Economics Institute untuk Asia Pasifik, menyoroti bahwa sektor perjalanan menunjukkan tingkat ketahanan yang tinggi di tengah berbagai gejolak ekonomi global yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, ketahanan ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan industri pariwisata.

Mann juga menggarisbawahi peran penting perkembangan teknologi, khususnya Kecerdasan Buatan (AI), sebagai motor penggerak utama yang akan memimpin pertumbuhan industri perjalanan ke masa mendatang. Teknologi ini dinilai mampu menciptakan efisiensi dan pengalaman yang lebih personal bagi wisatawan.

Hal ini disampaikan dalam konferensi pers peluncuran Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang diadakan di sela-sela acara Halal in Travel Global Summit pada hari Kamis, 18 Juni 2026. Momen ini menjadi ajang penting untuk memaparkan tren industri terkini.

"Permintaan perjalanan tetap kuat. Kami melihat penggunaan teknologi, termasuk AI, akan menjadi aspek yang sangat menarik untuk memimpin industri ini ke masa depan," ungkap David Mann dalam kesempatan tersebut.

Pertumbuhan signifikan pada pasar wisata muslim secara khusus didorong oleh demografi yang menguntungkan, yakni populasi muslim yang semakin muda dan memiliki literasi digital yang tinggi. Kelompok demografis ini menjadi konsumen utama yang aktif memanfaatkan teknologi.

Wisatawan muslim yang melek digital tersebut semakin bergantung pada pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menemukan destinasi, merancang pengalaman unik, serta mencari layanan perjalanan yang betul-betul sesuai dengan nilai dan kebutuhan spesifik mereka.

Dilansir dari Bisnis.com, Mann mengakui bahwa tantangan ekonomi global masih membayangi, terutama terkait volatilitas harga minyak yang meningkat akibat konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya situasi yang melibatkan Iran.

Meskipun ada perkembangan positif menuju resolusi konflik dan potensi pembukaan kembali jalur pelayaran strategis, Mann menilai dampak ekonomi dari gangguan pasokan energi sudah terlanjur terasa oleh pasar global.