TREN.BISNISMARKET.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini tidak semata-mata disebabkan oleh dinamika global. Sejumlah faktor internal atau domestik turut memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan kurs rupiah di pasar keuangan Indonesia.
Faktor domestik tersebut mencakup tingginya permintaan dolar AS yang timbul seiring dengan periode pembayaran dividen oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Selain itu, belum optimalnya pemanfaatan skema transaksi mata uang lokal (LCT) juga menjadi salah satu kontributor utama pelemahan ini.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyoroti bahwa pelemahan rupiah secara year to date (ytd) sudah mencapai hampir 5% sepanjang tahun ini. Tekanan ini diperparah oleh meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) saat perusahaan melakukan pembayaran dividen pada Mei 2026.
Josua Pardede juga menggarisbawahi bahwa pelemahan rupiah terjadi tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap mata uang regional Asia lainnya. Secara perbandingan, kinerja rupiah relatif lebih baik hanya dibandingkan rupee India.
"Yang paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap dolar Singapura, yang berikutnya terhadap dolar Hong Kong, dan yuan China. Jadi, jangan terus menyalahkan global," terang Josua Pardede saat menghadiri Pelatihan Wartawan di Hyatt Place Makassar, sebagaimana dikutip pada Minggu (24/5/2026).
Mengingat adanya tekanan yang cukup besar pada nilai tukar, Josua Pardede menyarankan agar Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat langkah-langkah mitigasi yang sudah ada. Salah satu strategi kunci yang perlu diperluas implementasinya adalah kebijakan Transaksi Mata Uang Lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
Menurut pandangan ekonom tersebut, semakin banyak negara yang mengadopsi skema LCT, maka akan semakin berkurang ketergantungan perdagangan dan investasi lintas negara terhadap dolar AS. Oleh karena itu, BI didorong untuk proaktif memperluas kerja sama LCT dengan berbagai negara mitra dagang.
"Kami mendorong Bank Indonesia menyuarakan ke peers central bank lain juga. Karena kita udah berkoar-koar di dalam tetapi bank sentral negara lain mungkin berkurang, berkoar-koar ke stakeholder-nya mereka," tutur Josua Pardede mengenai pentingnya komunikasi antarbank sentral.
LCT merupakan mekanisme penyelesaian transaksi bilateral antara pelaku usaha di Indonesia dan mitra dagangnya menggunakan mata uang masing-masing. Skema ini dilakukan melalui bank atau Appointed Cross Currency Dealer (ACCD), dan tujuannya adalah mengurangi dominasi dolar AS serta memperkuat stabilitas kurs di tengah ketidakpastian global.