TREN.BISNISMARKET.COM - Implementasi program bahan bakar nabati E10, yang memadukan bensin dengan 10 persen etanol, kini menghadapi tantangan signifikan. Hambatan utama yang muncul berasal dari sektor harga molasses, sebuah produk sampingan pengolahan tebu yang menjadi bahan baku utama etanol.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi para petani tebu di Indonesia. Mereka menilai bahwa harga yang ditawarkan oleh PT Pertamina (Persero) untuk komoditas molasses belum mencerminkan nilai pasar yang sebenarnya, sehingga menghambat kelancaran program E10.
Program E10 sendiri dirancang sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendorong penggunaan . Keberhasilan program ini sangat bergantung pada ketersediaan etanol yang memadai dan dengan harga yang kompetitif.
Molasses berperan krusial dalam rantai pasok etanol. Ketersediaan molasses dengan harga yang menguntungkan bagi petani tebu akan secara langsung memengaruhi biaya produksi etanol, yang pada akhirnya berdampak pada harga jual bahan bakar E10.
"Harga yang ditawarkan Pertamina masih di bawah harga pasar," demikian keluhan yang disampaikan oleh para petani tebu. Pernyataan ini mengindikasikan adanya jurang pemisah antara ekspektasi petani terhadap nilai ekonomis molasses dan penawaran dari pihak badan usaha negara tersebut.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani tebu. Jika harga molasses tidak ideal, insentif untuk memproduksi etanol menjadi berkurang, yang berpotensi memperlambat atau bahkan menggagalkan target penerapan E10.
Dampak dari rendahnya harga molasses ini tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga dapat merembet pada industri pengolahan tebu secara keseluruhan. Petani mungkin enggan menjual hasil sampingannya jika tidak mendapatkan keuntungan yang layak.
Oleh karena itu, diperlukan dialog yang konstruktif antara petani tebu, industri pengolahan, dan Pertamina untuk menemukan titik temu. Solusi yang menguntungkan semua pihak diharapkan dapat segera tercapai demi suksesnya program E10.
Penyesuaian harga yang lebih realistis dari Pertamina diharapkan dapat menjadi stimulus bagi petani untuk terus berpartisipasi aktif dalam menyediakan bahan baku etanol. Hal ini penting untuk menjaga momentum transisi energi yang sedang digalakkan pemerintah.
Sumber: energi terbarukan