TREN.BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah merancang peluncuran motor listrik nasional yang diproyeksikan dapat menjadi tonggak penting bagi kebangkitan sektor manufaktur dalam negeri. Proyek ambisius ini berpotensi memperkuat fundamental ekonomi nasional jika dikelola secara serius dengan melibatkan industri lokal.

Kebangkitan sektor manufaktur menjadi krusial bagi Indonesia saat ini, mengingat kebutuhan akan "motor penggerak" ekonomi baru yang mampu menyerap tenaga kerja berkualitas. Hal ini menjadi angin segar bagi upaya mendorong sektor manufaktur menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi.

"Hal ini tentunya menjadi angin segar agar sektor manufaktur bisa kembali terdorong dan menjadi lokomotif penggerak perekonomian nasional, serta menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas," ujar Ajib, menyoroti potensi proyek ini.

Keberhasilan program motor listrik nasional ini, menurut Ajib, sangat bergantung pada eksekusi yang matang. Proyek ini tidak boleh hanya sebatas perakitan, namun harus mampu membangun rantai pasok yang kokoh di dalam negeri.

"Untuk bisa disebut sebagai motor listrik nasional dan memberikan dampak trickle down effect untuk industri kecil menengah, produk ini minimal harus memenuhi dua unsur. Pertama, mempunyai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 50 persen termasuk IP lokal, misalnya chassis, body pack, wiring, dan lainnya,” jelas Ajib mengenai syarat utama.

Selain itu, pelibatan industri kecil dan menengah (IKM), koperasi, serta pelaku usaha komponen otomotif menjadi elemen krusial. Kolaborasi ini diharapkan dapat menyebarkan manfaat ekonomi secara merata, mulai dari investasi hingga penciptaan lapangan kerja baru.

Apabila ekosistem yang solid ini berhasil dibangun, motor listrik nasional dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.

Kendaraan ini akan memiliki relevansi ekonomi yang tinggi karena dapat dirancang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia, mendukung aktivitas produktif sehari-hari.

Dari sisi lingkungan, penggunaan motor listrik dapat memangkas emisi gas buang lebih dari 95 persen dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, sejalan dengan komitmen transisi energi pemerintah.