TREN.BISNISMARKET.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mendalami potensi penerapan model universal banking di Indonesia sebagai strategi untuk mengintegrasikan berbagai layanan keuangan di bawah satu atap entitas. Model ini bertujuan menyatukan layanan perbankan konvensional, aktivitas pasar modal, dan manajemen aset dalam satu wadah operasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa struktur industri perbankan nasional saat ini masih mengelompokkan layanan perbankan, asuransi, dan pasar modal dalam bentuk konglomerasi keuangan. Hal ini mengindikasikan adanya peluang untuk memperkuat integrasi layanan secara lebih menyeluruh.
Dikutip dari jawaban tertulis yang diterima pada Minggu (29/3/2026), Dian Ediana Rae menyatakan bahwa saat ini struktur industri perbankan nasional masih memisahkan layanan perbankan, pasar modal, dan asuransi dalam bentuk konglomerasi keuangan, "Sehingga masih terdapat ruang penguatan integrasi layanan keuangan secara menyeluruh," ujarnya.
Praktik universal banking ini bukanlah hal baru di kancah global, karena sudah menjadi standar umum di negara-negara maju dengan sektor keuangan yang mapan. Negara-negara seperti Jerman, Inggris, dan Singapura telah lama mengadopsi model ini dalam operasional mereka.
Selain itu, di kawasan ASEAN, beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina juga telah mengimplementasikan model universal banking dalam kerangka regulasi mereka.
OJK memproyeksikan bahwa adopsi model ini akan membawa sejumlah manfaat strategis bagi industri keuangan domestik. Salah satu keuntungan utamanya adalah peningkatan efisiensi biaya operasional melalui konsolidasi infrastruktur yang digunakan bersama oleh berbagai unit bisnis.
Model terintegrasi ini juga diyakini mampu memperkuat diversifikasi sumber pendapatan bagi bank-bank yang menerapkannya. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis saja, sehingga meningkatkan ketahanan finansial bank secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Dian Ediana Rae menjelaskan potensi manfaat lain dari integrasi ini, yaitu "Mendorong inovasi produk dan layanan keuangan yang lebih cepat karena terciptanya sinergi antar unit bisnis dalam satu entitas, serta berkontribusi langsung terhadap peningkatan inklusi keuangan dan akses terhadap berbagai produk keuangan formal di masyarakat," kata Dian.
Integrasi layanan ini juga diharapkan dapat memicu praktik cross-selling produk keuangan yang lebih efektif kepada basis nasabah yang sama, sehingga meningkatkan nilai transaksi per nasabah.