TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa mobilitas perjalanan jarak jauh masyarakat Indonesia mulai menunjukkan perlambatan signifikan setelah berakhirnya periode libur panjang Idulfitri pada bulan Maret 2026. Penurunan ini terlihat jelas pada data penumpang moda transportasi udara dan kereta api jarak jauh sepanjang April 2026.
Secara agregat, mayoritas moda transportasi mengalami koreksi dalam pergerakan penumpang, baik jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM) maupun secara tahunan (year-on-year/YoY). Koreksi ini merupakan hal yang wajar terjadi setelah lonjakan permintaan yang masif selama musim mudik dan libur hari raya.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, memaparkan bahwa penumpang pesawat domestik pada April 2026 tercatat sebanyak 4,57 juta orang. Angka ini mengalami kontraksi 18,72% secara bulanan dan terkoreksi 15,85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan signifikan pada sektor penerbangan domestik ini terdistribusi di beberapa bandara utama di Indonesia. Sebagai contoh, Bandara Hasanuddin Makassar mencatat penurunan 13,24% secara bulanan, disusul Bandara Soekarno-Hatta Tangerang yang turun 8,66%, dan Bandara Kualanamu Medan turun 6,36% secara bulanan.
Sementara itu, penerbangan internasional masih menunjukkan sedikit pertumbuhan tipis sebesar 0,93% dibandingkan Maret 2026, mencapai 1,56 juta penumpang, meskipun secara tahunan masih mencatat penurunan 1,78%. Tekanan pada penerbangan domestik ini dikaitkan dengan adanya lonjakan harga avtur pada bulan tersebut.
Dilansir dari Bisnis.com, harga avtur yang dirilis oleh Pertamina pada April 2026 dilaporkan melonjak lebih dari 70% dibandingkan bulan sebelumnya, yang secara langsung memberikan tekanan pada biaya operasional maskapai penerbangan.
Berbeda dengan pesawat, moda kereta api secara agregat masih mampu mencatatkan pertumbuhan, dengan total penumpang mencapai 48,28 juta orang pada April 2026. Angka ini naik 0,30% dibandingkan Maret 2026 dan tumbuh 7,65% secara tahunan.
Namun, pertumbuhan agregat angkutan rel ini ternyata tidak didorong oleh perjalanan jarak jauh, melainkan oleh pergerakan komuter di perkotaan. Penumpang kereta di wilayah Jawa non-Jabodetabek justru turun 11,98% secara bulanan, sementara wilayah non-Jawa turun 3,83%.
Peningkatan justru terjadi pada layanan perkotaan, di mana penumpang KRL Jabodetabek naik 2,10%, MRT melonjak 11,29%, LRT meningkat 11,61%, dan kereta cepat Whoosh tumbuh 7,76% secara bulanan.