TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan signifikan dalam cara masyarakat China menikmati pertandingan sepak bola Piala Dunia terjadi tahun ini, menunjukkan adanya pergeseran budaya yang menarik dalam kebiasaan menonton.
Alih-alih berkumpul di bar atau restoran untuk acara nonton bareng (nobar), mayoritas warga lokal kini lebih memilih untuk memantau pertandingan melalui perangkat gawai masing-masing dari kenyamanan rumah mereka.
Berdasarkan pantauan langsung di Beijing pada hari Minggu (21/06/2026), antusiasme masyarakat untuk mendatangi tempat hiburan malam demi menonton pertandingan tercatat sangat minim.
Salah satu faktor utama pendorong fenomena ini adalah perbedaan zona waktu yang ekstrem, menyebabkan jadwal siaran langsung sering kali jatuh pada tengah malam atau bahkan saat jam kerja pagi hari di China.
Hal ini membuat kegiatan nobar di luar rumah menjadi tidak praktis bagi banyak orang yang harus bekerja keesokan harinya.
Seorang pekerja di Absolut Bar, Xu Wang, menjelaskan kesulitan dalam mengatur pertemuan nonton bareng karena waktu siaran yang tidak mendukung dan jarak tempat tinggal yang berjauhan.
"Jika teman-teman saya tertarik dengan Piala Dunia, mereka pasti akan menontonnya di rumah saja. Sangat sulit menemukan tempat berkumpul yang cocok pada jam malam seperti itu, terutama karena rumah semua orang tersebar berjauhan di berbagai sudut kota," ujar Xu Wang.
Pergeseran ke ranah digital ini sangat didukung oleh infrastruktur teknologi yang maju, seperti masifnya jaringan konektivitas 5G dan ketersediaan paket internet dengan harga terjangkau di Negeri Tirai Bambu.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh platform media sosial lokal, Xiaohongshu, yang berhasil memenangkan hak kemitraan strategis dengan China Media Group (CCTV) untuk menyiarkan seluruh pertandingan secara gratis.