TREN.BISNISMARKET.COM - Aktivitas ekonomi sektor swasta di Prancis dilaporkan mengalami kontraksi yang sangat signifikan selama bulan Mei 2026. Penurunan performa ini bersumber dari melemahnya kinerja sektor jasa serta tekanan yang kembali dirasakan oleh sektor manufaktur di negara tersebut.
Penurunan drastis ini terkonfirmasi melalui hasil survei awal S&P Global yang dirilis pada Kamis, 21 Mei 2026. Indeks Manajer Pembelian (PMI) komposit Prancis tercatat merosot tajam ke posisi 43,5 pada bulan Mei, menurun dari angka 47,6 pada bulan sebelumnya.
Angka PMI komposit 43,5 ini merupakan posisi terendah yang dicatatkan Prancis dalam kurun waktu 66 bulan terakhir. Secara umum, indeks PMI yang berada di bawah angka 50 mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi tengah mengalami kontraksi atau penyusutan.
Dilansir dari Reuters, penurunan performa ekonomi ini terjadi akibat melemahnya kinerja dua pilar utama perekonomian Prancis. PMI sektor jasa jatuh bebas ke level 42,9, sementara PMI manufaktur juga terkoreksi turun ke 48,9 dari posisi 52,8 pada April 2026.
S&P Global mengidentifikasi bahwa salah satu faktor utama yang memperburuk situasi bisnis saat ini adalah dampak berkelanjutan dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik ini telah memicu kenaikan harga energi dan bahan bakar secara global.
Kenaikan biaya operasional akibat lonjakan energi ini dinilai sangat memberatkan perusahaan-perusahaan di Prancis, sekaligus turut mengikis permintaan yang ada di pasar domestik maupun internasional.
Ekonom Utama S&P Global Market Intelligence, Joe Hayes, memberikan pandangan mengenai dampak inflasi yang meluas ini. "Survei PMI kilat Mei untuk Prancis menunjukkan angka yang suram. Dampak inflasi dari lonjakan harga minyak terus menyebar, dengan indeks harga di sektor manufaktur dan jasa kembali meningkat," ujar Hayes.
Lebih lanjut, Joe Hayes menekankan bahwa indikator pesanan baru di sektor swasta juga menunjukkan penurunan yang cukup signifikan pada Mei. Hal ini menjadi sinyal kuat mengenai meningkatnya ancaman resesi yang mengintai perekonomian terbesar kedua di zona euro tersebut.
"Guncangan ini secara signifikan meningkatkan risiko resesi bagi ekonomi terbesar kedua di zona euro," tambah Hayes.