TREN.BISNISMARKET.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) telah menjadwalkan agenda penting pada hari Rabu, 1 Juli 2026, yakni konferensi pers untuk memaparkan sejumlah data ekonomi terkini. Acara yang akan dimulai pukul 11.00 WIB ini akan fokus pada perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk inflasi bulan Juni 2026.
Indikator utama lainnya yang akan diumumkan adalah posisi neraca perdagangan Indonesia untuk periode Mei 2026, yang mencakup data ekspor dan impor secara rinci. Pengumuman ini sangat dinantikan untuk melihat pergerakan perdagangan internasional Indonesia.
Selain data inflasi dan neraca perdagangan, BPS juga akan menyajikan berbagai indikator sektoral yang memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi perekonomian nasional. Data ini penting untuk pemantauan kinerja berbagai sektor.
Data sektoral yang dirilis meliputi perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP), pertumbuhan sektor pariwisata, kinerja transportasi, serta perkembangan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Ini menunjukkan cakupan luas dari informasi yang disediakan BPS.
Lebih lanjut, BPS akan memperbarui data produksi pangan nasional melalui rilis luas panen dan produksi padi serta jagung untuk periode tersebut. Data ini menjadi acuan penting dalam memantau ketahanan pangan domestik.
Terkait inflasi, hasil survei BIG Consensus Insights dari DataIndonesia menunjukkan proyeksi median inflasi bulanan Juni 2026 mencapai 0,41% (month-to-month/MtM). Proyeksi inflasi tahunan (year-on-year/YoY) diprediksi mencapai 3,29% berdasarkan survei yang melibatkan 20 ekonom dan analis.
Proyeksi inflasi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi pada Juni 2025 yang tercatat 0,19% secara bulanan, dan melampaui inflasi bulan sebelumnya, Mei 2026, sebesar 0,28% secara bulanan. Mayoritas responden survei menilai tekanan inflasi bersumber dari kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, serta gejolak harga pangan.
"Tekanan dari sisi nilai tukar juga tercermin pada proyeksi inflasi inti. Berdasarkan BIG Consensus Insights, median inflasi inti Juni 2026 diperkirakan mencapai 0,16% secara bulanan atau 2,63% secara tahunan," demikian hasil survei tersebut.
Berbeda pandangan mengenai inflasi, proyeksi neraca perdagangan Mei 2026 menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para analis. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., David Sumual, memperkirakan neraca perdagangan akan mencatat defisit, yang berarti mengakhiri rekor surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.