TREN.BISNISMARKET.COM - Para analis pasar memproyeksikan bahwa tekanan yang dihadapi oleh harga emas belum akan mereda dalam waktu dekat di pasar global. Sejumlah faktor fundamental ekonomi makro, termasuk lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan ancaman suku bunga tinggi dari bank sentral AS (The Fed), menjadi bayang-bayang utama pergerakan logam mulia pekan mendatang.
Pada sepanjang pekan ini, harga emas spot dilaporkan mengalami pergerakan yang cukup volatil di pasar internasional. Emas sempat menunjukkan kekuatan mendekati level psikologis US$ 4.600 per ons troi sebelum akhirnya mengalami koreksi signifikan dan kembali bertahan di kisaran US$ 4.500 per ons troi.
Tekanan utama yang menekan harga emas muncul setelah pasar mulai menghitung ulang probabilitas The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Hal ini dipicu oleh data inflasi AS yang dinilai masih menunjukkan tingkat kekhawatiran.
Kondisi ini diperparah dengan masih bertahannya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun di atas level 5%, sementara obligasi Treasury tenor 10 tahun juga bertahan di atas 4,5%. Tingginya imbal hasil ini semakin menekan daya tarik emas yang merupakan aset non-yielding.
Dilansir dari Kitco News, Naeem Aslam, Chief Investment Officer Zaye Capital Markets, menyoroti potensi kekhawatiran investor terhadap aset obligasi itu sendiri. "Jika yield tenor panjang terus naik secara agresif, pasar bisa mulai mempertanyakan status obligasi pemerintah sebagai aset safe haven," ujarnya.
Aslam juga menggarisbawahi sinyal penting yang harus diperhatikan investor di pasar emas saat ini. Ia menilai, "Sinyal penting yang perlu diperhatikan adalah ketika yield obligasi terus naik tetapi harga emas mulai berhenti turun. Kondisi itu dinilai dapat menjadi pertanda investor kembali memburu emas sebagai aset pelindung kekayaan."
John Murillo, Chief Business Officer B2BROKER Group, memberikan pandangan bahwa tekanan jangka pendek terhadap emas kemungkinan besar akan terus berlanjut. Kenaikan ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Fed, ditambah dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi, meningkatkan risiko inflasi.
Murillo bahkan memberikan proyeksi yang lebih pesimistis dalam skenario tekanan pasar yang meningkat tajam. Ia memperkirakan, "Saya bahkan memperkirakan, harga emas berpotensi turun menuju US$ 4.000 per ons troi apabila tekanan pasar semakin besar."
Meskipun demikian, Murillo tetap optimis mengenai prospek jangka panjang logam mulia ini, terutama karena tren peningkatan cadangan emas oleh bank sentral di seluruh dunia terus berlanjut. Sementara itu, analis dari TD Securities berpendapat bahwa kenaikan yield obligasi saat ini lebih didorong oleh ekspektasi inflasi dan ketahanan ekonomi AS dibandingkan kekhawatiran defisit fiskal.