TREN.BISNISMARKET.COM - PT Lintasarta memastikan bahwa meskipun terjadi penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah, langkah investasi perusahaan di sektor infrastruktur digital akan tetap berjalan. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan kebutuhan pasar yang berkelanjutan.
Perusahaan menegaskan bahwa investasi yang akan digelontorkan akan dilakukan secara selektif dan terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik dari para pelanggan yang dilayani. Hal ini juga akan didasarkan pada potensi imbal hasil (return) yang jelas dari setiap proyek.
President Director & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menjelaskan bahwa perusahaan tidak akan melakukan ekspansi investasi besar-besaran tanpa adanya perhitungan yang matang mengenai prospek bisnisnya. Investasi hanya akan difokuskan pada infrastruktur dan layanan yang benar-benar dibutuhkan oleh ekosistem digital pelanggan.
"Yang namanya investasi pasti hubungannya dengan infrastruktur. Enggak juga kita investasi besar-besaran sementara returnnya belum kebayang. Jadi kalau investasi yang ada returnnya, investasi yang memang dibutuhkan oleh pelanggan, kita akan terus lakukan," kata Armand saat acara Media Gathering yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa (9/6/2026).
Armand Hermawan menilai bahwa pelemahan mata uang Rupiah yang disebabkan oleh kenaikan kurs Dolar belum tentu berdampak pada penghentian belanja teknologi oleh pelanggan. Teknologi tersebut dinilai memiliki dampak signifikan terhadap kelangsungan operasional bisnis mereka.
Menurut pandangannya, penyesuaian yang mungkin terjadi pada klien adalah pengurangan cakupan proyek, bukan penghentian total terhadap investasi teknologi yang telah direncanakan sebelumnya.
"Kita belum tahu apakah kurs naik ini akan menahan mereka membeli aplikasi yang impact-nya sangat besar. Apakah karena kursnya tinggi terus tidak membeli cybersecurity? Kan tidak. Tapi mungkin scope-nya dikurangi," ujarnya.
Oleh karena itu, Lintasarta berkomitmen untuk melanjutkan investasi yang secara langsung berkaitan dengan kebutuhan pelanggan, tuntutan industri, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku di Indonesia. Perusahaan akan tetap menjalankan strategi investasi ini dengan penuh kehati-hatian.
"Investasinya akan kita lakukan dengan hati-hati dan berhubungan dengan kebutuhan pelanggan, kebutuhan industri, dan juga kebutuhan regulasi," kata Armand.