TREN.BISNISMARKET.COM - PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT INKA tengah menggalakkan rencana ekspansi kapasitas produksi pada dua fasilitas utamanya, yaitu pabrik di Banyuwangi dan Madiun. Langkah strategis ini didukung penuh melalui pemanfaatan Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk tahun anggaran 2025 yang nilainya mencapai Rp473 miliar.
Direktur Utama PT INKA, Eko Purwanto, menjelaskan bahwa dana PMN tersebut dialokasikan untuk beberapa tujuan krusial. Alokasi ini berfokus pada peningkatan kapasitas, penguatan kapabilitas manufaktur, serta akselerasi transformasi digital pada berbagai lini produksi hilir perusahaan.
Selain peningkatan kapasitas dan kapabilitas, suntikan modal negara ini juga diarahkan untuk melengkapi fasilitas pengujian yang memadai. Fasilitas tambahan ini penting untuk memastikan kualitas akhir dari seluruh produk kereta api yang diproduksi oleh INKA.
"Rencana penggunaan PMN ini kami pergunakan selain peningkatan kapasitas dan kapabilitas, juga kami pergunakan untuk pengembangan komponen-komponen utama kereta api, yaitu propulsi dan bogie," ujar Eko Purwanto di Kompleks Parlemen RI, Senin (8/6/2026).
Eko Purwanto merincikan bagaimana alokasi dana PMN tahun anggaran 2025 senilai Rp473 miliar tersebut dibagi ke dalam dua klaster peruntukan utama. Pembagian ini dilakukan secara strategis demi mendukung kebutuhan operasional kedua pabrik tersebut.
Sebesar Rp440 miliar dari total dana tersebut telah dialokasikan secara spesifik untuk sektor fasilitas produksi dan pengembangan infrastruktur di pabrik. Sisa anggaran, yakni Rp33 miliar, akan digunakan untuk memperkuat ketersediaan fasilitas pendukung pabrik secara keseluruhan.
Saat ini, proses realisasi PMN 2025 sudah memasuki tahap krusial, yaitu pengadaan mesin-mesin modern. Pengadaan ini dilakukan sebagai upaya nyata untuk memacu output produksi di pabrik Madiun maupun Banyuwangi secara bersamaan.
Melalui injeksi PMN ini, kapasitas produksi bogie di pabrik Madiun ditargetkan melonjak drastis dari sebelumnya 300 car set menjadi 586 car set per tahun. Sementara itu, pabrik Banyuwangi ditargetkan mampu meningkatkan kapasitasnya hingga mencapai 250 kereta berpenggerak per tahun.
Lebih lanjut, Direktur Utama INKA juga mengungkapkan adanya pembagian fokus produk yang spesifik antara kedua pabrik. Pabrik Madiun akan diorientasikan khusus untuk memproduksi kereta non-penggerak, seperti gerbong barang dan kereta penumpang konvensional.