TREN.BISNISMARKET.COM - Kinerja premi industri asuransi umum di Indonesia hingga Maret 2026 menunjukkan bahwa tiga lini usaha utama masih menjadi penopang utama pendapatan sektor tersebut. Pencapaian ini terjadi meskipun kondisi ekonomi domestik tengah mengalami fluktuasi yang cukup dinamis belakangan ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi sumber data yang mengonfirmasi bahwa lini asuransi harta benda, kendaraan bermotor, serta kredit menyumbang kontribusi terbesar terhadap total premi industri. Ketiga sektor ini secara akumulatif mendominasi struktur pendapatan premi secara keseluruhan pada periode tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, secara resmi memberikan keterangan mengenai komposisi kontributor utama asuransi umum. Penjelasan ini disampaikan melalui jawaban tertulis terkait Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK belum lama ini.
"Berdasarkan data posisi Maret 2026, tiga lini usaha pada industri asuransi umum yang menjadi penopang utama meliputi lini usaha harta benda (properti), kendaraan bermotor, serta kredit," tulis Ogi dalam jawaban tertulis RDK OJK, belum lama ini.
Secara rinci, sektor asuransi harta benda menempati posisi teratas dengan nilai premi yang berhasil dibukukan mencapai Rp 8,47 triliun. Angka ini merepresentasikan porsi signifikan, yakni sebesar 25,18 persen dari total akumulasi premi seluruh industri asuransi umum.
Selanjutnya, sektor kendaraan bermotor menempati peringkat kedua dalam kontribusi premi industri asuransi umum nasional per Maret 2026. Sektor ini berhasil mengumpulkan dana premi sebesar Rp 5,84 triliun, setara dengan 17,37 persen dari total premi industri.
Di posisi ketiga, lini usaha asuransi kredit menunjukkan kinerja yang solid dengan perolehan nilai premi sebesar Rp 4,73 triliun. Kontribusi sektor ini mencapai 14,05 persen dari keseluruhan pendapatan premi asuransi umum di Indonesia.
"Ketiga lini usaha itu masih menjadi tulang punggung pertumbuhan premi industri asuransi umum di tengah dinamika perekonomian domestik," tutur Ogi Prastomiyono.
OJK memproyeksikan bahwa dominasi ketiga sektor penopang ini akan tetap bertahan kuat hingga penutupan tahun buku 2026 mendatang. Proyeksi ini didasarkan pada tren kinerja yang ditunjukkan sepanjang kuartal pertama tahun tersebut.