TREN.BISNISMARKET.COM - Jakarta, CNBC Indonesia melaporkan bahwa meskipun investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) signifikan, terdapat pergeseran strategi di pasar saham Indonesia. Periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026 mencatat dana keluar bersih sebesar Rp2,73 triliun di pasar reguler.

Namun, fenomena yang menarik perhatian adalah mulai meningkatnya minat investor global terhadap saham-saham komoditas dan energi. Minat ini muncul seiring dengan kondisi valuasi pasar saham Indonesia yang terlihat semakin terjangkau dibandingkan awal tahun ini.

Indikasi penurunan valuasi terlihat jelas dari rasio Market Price to Earnings Ratio (PER), yang berada di level 12,25 kali pada akhir pekan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan posisi pertengahan Januari 2026 yang mencapai 17,23 kali, saat IHSG sempat menembus level 9.000 lebih.

Selain PER, rasio Price to Book Value (PBV) juga menunjukkan tren penurunan signifikan, yakni menyentuh 1,56 kali dari sebelumnya 2,58 kali. Penurunan kedua rasio valuasi ini mengindikasikan bahwa pasar saham domestik telah mengalami koreksi harga yang cukup dalam selama enam bulan terakhir.

Di tengah tren koreksi tersebut, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menjadi primadona bagi investor asing, mencatatkan nilai pembelian bersih (net buy) terbesar senilai Rp131,5 miliar. Ini menunjukkan adanya ketertarikan spesifik pada sektor pertambangan.

Selain ANTM, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga menjadi incaran utama dengan nilai net buy mencapai Rp115,5 miliar, diikuti oleh PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) yang diborong senilai Rp104,4 miliar.

Investor asing juga menunjukkan ketertarikan pada sektor energi dan energi terbarukan, terlihat dari pembelian saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) senilai Rp74,8 miliar dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) senilai Rp65,3 miliar. Daftar saham yang paling banyak dikoleksi asing juga menyertakan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dengan net buy Rp64 miliar.

Secara keseluruhan pergerakan indeks, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi tipis sebesar 0,35% ke level 5.875,78 pada penutupan pekan tersebut, meskipun sempat menguat dalam tiga dari lima hari perdagangan yang ada.

Aktivitas transaksi pasar juga mengalami perlambatan signifikan selama periode yang diamati. Rata-rata nilai transaksi harian tercatat turun 35,9% menjadi hanya Rp11,27 triliun, berbanding terbalik dengan Rp17,58 triliun pada minggu sebelumnya.