TREN.BISNISMARKET.COM - Industri teknologi global saat ini tengah dihebohkan dengan munculnya fenomena yang dikenal sebagai RAMageddon. Istilah ini merujuk pada kondisi kelangkaan chip memori di seluruh dunia yang dipicu oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta perluasan pusat data secara besar-besaran.

Dikutip dari Tekno, keterbatasan pasokan chip memori ini berdampak langsung pada ketersediaan perangkat elektronik bagi konsumen. Perangkat seperti ponsel pintar, laptop, hingga konsol permainan kini menjadi semakin sulit didapatkan karena stok komponen yang sangat terbatas di pasar global.

Kondisi tersebut memaksa sejumlah produsen teknologi raksasa seperti Samsung, Microsoft, dan Dell untuk segera menyesuaikan strategi bisnis mereka. Selain menaikkan harga jual, para produsen ini juga mulai menarik model perangkat murah demi memprioritaskan produksi chip dengan margin keuntungan yang lebih tinggi.

"RAMageddon secara teknis merujuk pada krisis pasokan chip memori yang disebabkan oleh lonjakan permintaan yang luar biasa dari sektor industri AI," ujar Bima Aryo.

Investasi besar-besaran dalam pengembangan teknologi pintar saat ini menuntut kapasitas pusat data yang sangat luas dengan kualitas komponen yang tinggi. Hal ini menyebabkan pengalihan sumber daya produksi dari perangkat konsumen menuju infrastruktur pendukung kecerdasan buatan.

Dampak dari kelangkaan ini tidak hanya menyerang unit memori utama, tetapi juga mulai merambat ke komponen penyimpanan flash untuk SSD dan prosesor kelas menengah ke bawah. Produsen lebih memilih mengalokasikan kapasitas pabrik mereka untuk memenuhi kebutuhan sektor AI yang dinilai lebih menguntungkan secara finansial.

"Harga laptop untuk segmen menengah diperkirakan akan mengalami lonjakan hingga 40 persen sepanjang tahun 2026," kata pihak dari firma riset TrendForce.

Prediksi yang lebih mengkhawatirkan juga datang dari sektor pasar perangkat murah bagi konsumen kelas bawah. Analis memperkirakan bahwa ketersediaan perangkat dengan harga terjangkau akan semakin menipis seiring dengan berlanjutnya krisis pasokan komponen ini.

"Segmen laptop dengan harga di bawah 500 dollar AS atau sekitar Rp 8 jutaan diperkirakan akan menghilang sepenuhnya dari pasar pada tahun 2028 mendatang," ungkap analis dari Gartner.