TREN.BISNISMARKET.COM - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan niatnya untuk secara langsung menyampaikan keberatan negaranya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keberatan ini berkaitan dengan kebijakan tarif baru yang baru-baru ini diberlakukan oleh Washington.

Kebijakan tarif baru tersebut, menurut pandangan Albanese, dinilai tidak memiliki landasan atau dasar yang kuat. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah Australia dalam hubungan bilateral kedua negara.

Albanese menegaskan bahwa isu ini akan menjadi topik yang "benar-benar" diangkat saat dirinya berkesempatan berbicara dengan Presiden Trump. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan program ABC Insiders pada hari Minggu.

Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengumumkan penerapan tarif baru sebesar 12,5%. Kebijakan ini dikeluarkan setelah penyelidikan mendalam terhadap sekitar 60 negara yang dinilai tidak mampu mencegah praktik kerja paksa dalam rantai pasok mereka.

Dampak dari praktik kerja paksa tersebut dinilai sangat merugikan bagi para pekerja di Amerika Serikat. Oleh karena itu, pemerintah AS mengambil langkah tegas melalui pemberlakuan tarif baru ini.

Australia sendiri telah memulai upaya komunikasi dengan pemerintah Amerika Serikat mengenai kebijakan tarif baru tersebut. Langkah ini menunjukkan keseriusan Australia dalam menanggapi isu ini.

"Kami akan mengangkat isu itu di setiap tingkat hubungan Australia-AS," jelas Albanese dalam wawancara yang direkam di Adelaide pada hari Sabtu. Momen tersebut bertepatan dengan pelaksanaan konferensi tahunan Partai Buruh.

"Saya akan benar-benar mengangkat isu ini dengan Presiden Trump," tegas Albanese mengenai komitmennya untuk menyuarakan keberatan Australia secara langsung kepada pemimpin Amerika Serikat.

"Pemerintahan Trump pekan lalu mengumumkan tarif baru sebesar 12,5% setelah menyelesaikan penyelidikan terhadap sekitar 60 negara yang dinilai gagal mencegah praktik kerja paksa dalam rantai pasok yang berdampak pada pekerja di Amerika Serikat," demikian pernyataan yang dikutip dari sumber berita.