TREN.BISNISMARKET.COM - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mengonfirmasi bahwa implementasi sistem pemantauan produksi rokok secara otomatis kini telah memasuki fase uji coba atau piloting. Langkah ini merupakan bagian penting dari upaya penguatan tata kelola pengawasan cukai hasil tembakau di Indonesia.
Sistem pemantauan baru ini dirancang untuk memberikan otoritas di pusat kemampuan untuk mengawasi aktivitas produksi rokok di pabrikan secara otomatis dan langsung, atau real-time. Tujuannya adalah menciptakan pengawasan yang lebih akurat, transparan, dan berbasis data yang kuat.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetyo, saat memberikan keterangan kepada Bisnis pada hari Jumat, 12 Juni 2026. Ia menekankan pentingnya modernisasi dalam pengawasan komoditas cukai.
Sistem yang sedang dikembangkan oleh Bea Cukai ini dikenal dengan nama Sistem Pengawasan Terintegrasi Barang Kena Cukai (SPT BKC). Melalui sistem ini, data produksi rokok sebagai salah satu Barang Kena Cukai (BKC) akan dapat dipantau secara lebih dinamis.
Pemantauan langsung ini mencakup volume produksi, yakni jumlah batang rokok yang diproduksi, serta jumlah kemasan yang telah dilekati pita cukai resmi. Data komprehensif ini sangat vital untuk analisis kepatuhan perusahaan.
Selain itu, data real-time tersebut juga akan digunakan untuk memproyeksikan penerimaan negara secara lebih akurat dan mendukung deteksi dini terhadap potensi terjadinya pelanggaran cukai di lapangan.
"Pemasangan sistem pemantauan produksi rokok otomatis merupakan bagian dari penguatan tata kelola pengawasan cukai hasil tembakau agar semakin akurat, transparan, dan berbasis data," ujar Budi Prasetyo.
Budi Prasetyo juga menjelaskan bahwa SPT BKC yang baru ini akan berfungsi sebagai pelengkap upaya penindakan rokok ilegal yang selama ini telah dilakukan Bea Cukai bekerja sama dengan aparat penegak hukum lainnya. Dengan pengawasan yang lebih menyeluruh dari produksi hingga peredaran, efektivitas penindakan diharapkan meningkat.
"Saat ini, sistem tersebut telah memasuki tahap piloting di sejumlah pabrikan rokok di daerah dan akan terus dievaluasi serta dikembangkan secara bertahap," pungkas Budi Prasetyo.