TREN.BISNISMARKET.COM - Bank Indonesia (BI) kembali mempertegas komitmennya dalam menarik investasi portofolio asing dengan meluncurkan serangkaian insentif moneter dan makroprudensial. Langkah strategis ini dirancang untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus mengakselerasi pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) di Indonesia.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya BI dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak ketidakpastian global yang terus bergulir. Dengan kebijakan yang terintegrasi, BI berupaya menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif bagi para pelaku pasar asing.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan tujuan utama dari perluasan insentif ini. "Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA), serta meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan," katanya dalam keterangan resminya.

Fokus utama insentif baru ini menyasar investor portofolio asing yang melakukan aktivitas lindung nilai atau hedging. BI secara signifikan meningkatkan besaran insentif yang ditawarkan untuk instrumen lindung nilai.

Salah satu instrumen yang mendapat perhatian adalah Swap Jual Lindung Nilai Investasi Portofolio. BI kini menawarkan pengurangan premi yang lebih besar, yakni sebesar 12,5%, naik dari sebelumnya yang hanya 10%.

Selain itu, investor yang memilih instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Jual Lindung Nilai Investasi Portofolio juga akan mendapatkan keuntungan serupa. BI memberikan pengurangan premi sebesar 15% untuk jenis lindung nilai ini.

Kedua instrumen tersebut, menurut BI, merupakan bagian integral dari operasi moneter yang dirancang khusus untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing ke dalam negeri. BI menyediakan fasilitas transaksi swap dan DNDF yang dapat diakses oleh perbankan.

Fasilitas ini memiliki underlying investasi portofolio dalam mata uang Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah (USD/IDR). Dengan adanya insentif premi yang lebih rendah, biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk melakukan lindung nilai menjadi lebih terjangkau.

"Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA), serta meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan," ujar Ramdan Denny Prakoso.