TREN.BISNISMARKET.COM - Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) memicu perlombaan teknologi di antara perusahaan raksasa, sejalan dengan pandangan Ilya Sutskever, salah satu pendiri OpenAI, yang menyatakan bahwa masa depan AI harus bermanfaat bagi umat manusia.

Ironisnya, ambisi teknologi ini mulai menimbulkan dampak negatif signifikan, mulai dari peningkatan emisi karbon akibat pembangunan pusat data hingga krisis sumber daya seperti air dan listrik.

Selain isu lingkungan, ledakan kebutuhan data center AI turut memicu kelangkaan chip memori global, yang pada akhirnya menaikkan harga perangkat elektronik konsumen di pasar.

Di samping itu, kemudahan akses terhadap alat AI telah mempercepat penyebaran disinformasi dan berbagai modus penipuan daring yang makin sulit dikendalikan oleh publik.

Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga menjadi ancaman nyata, seperti yang terjadi di sektor teknologi Amerika Serikat pada Mei 2026, yang mencatat PHK tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.

Menurut data dari perusahaan jasa penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas, perusahaan teknologi mengumumkan pemutusan 38.242 posisi kerja sepanjang Mei, menjadi angka tertinggi sejak Agustus 2024.

Banyak perusahaan teknologi menjadikan efisiensi akibat adopsi AI sebagai alasan utama PHK, namun terdapat indikasi bahwa pengeluaran besar untuk pengembangan AI menjadi faktor pendorong utama.

"Orang-orang mengatakan, 'perusahaan saya menghabiskan seluruh anggaran 2026 saya di Q1. Bisakah Anda membuat ini lebih efisien?'" ujar Sam Altman, CEO OpenAI, mengenai situasi biaya yang mendesak.

Fenomena ini menjadi sangat terasa pada tahun 2026, di mana ketergantungan pekerja terhadap AI meningkat signifikan, mengubah isu biaya dari yang tadinya minor menjadi masalah besar, sebagaimana dilansir dari Tom's Hardware.