TREN.BISNISMARKET.COM - Starbucks Korea mengambil langkah signifikan dengan memutuskan untuk menutup lebih dari 2.000 gerainya lebih awal pada tanggal 22 Juni 2026. Keputusan ini diambil dalam rangka menyelenggarakan pelatihan wajib yang berfokus pada kesadaran sejarah dan sensitivitas sosial bagi seluruh karyawan mereka.

Langkah drastis ini merupakan respons langsung perusahaan setelah menuai kecaman publik yang luas. Kecaman tersebut muncul akibat sebuah kampanye promosi yang dianggap sangat tidak sensitif terhadap salah satu tragedi bersejarah penting di Korea Selatan.

Dilansir dari Yonhap pada Kamis (18/6/2026), akar permasalahan bermula dari kampanye pemasaran bertajuk "Tank Day". Kampanye ini diluncurkan oleh Starbucks Korea tepat pada tanggal 18 Mei 2026.

Tanggal peluncuran tersebut ternyata bertepatan dengan peringatan Gerakan Demokrasi Gwangju tahun 1980. Peristiwa ini merupakan momen krusial dalam sejarah modern Korea Selatan, di mana militer melakukan penindasan keras terhadap para demonstran yang menuntut demokrasi.

Kontroversi memuncak karena promosi tersebut menawarkan diskon untuk produk tumbler seri "Tank". Penggunaan kata "tank" memicu reaksi negatif karena publik mengaitkannya dengan kendaraan lapis baja yang digunakan militer saat menumpas demonstrasi di Gwangju.

Situasi semakin memanas ketika kampanye tersebut menggunakan slogan promosi yang berbunyi, "Letakkan di atas meja dengan bunyi ‘Tak!’". Frasa ini dianggap sangat sensitif karena mengingatkan masyarakat pada kasus tragis aktivis mahasiswa Park Jong-chol, yang meninggal akibat penyiksaan aparat pada tahun 1987.

"Frasa tersebut dinilai sensitif karena mengingatkan masyarakat pada kasus Park Jong-chol, aktivis mahasiswa yang meninggal dunia akibat penyiksaan aparat pada 1987," demikian disebutkan dalam narasi yang berkembang, merujuk pada simbol perjuangan demokrasi Korea Selatan.

Akibat gelombang kritik yang meluas di media sosial dan masyarakat, Starbucks Korea terpaksa menghentikan promosi tersebut hanya beberapa jam setelah diluncurkan. Kontroversi ini kemudian memicu serangkaian konsekuensi, termasuk aksi boikot konsumen dan penyelidikan oleh pihak berwenang.

Sebagai tindak lanjut atas insiden tersebut, Shinsegae Group, sebagai pemegang kendali Starbucks Korea, memutuskan untuk menggelar pelatihan khusus. Pelatihan ini ditujukan untuk manajemen dan karyawan guna meningkatkan pemahaman mendalam mengenai sejarah dan kepekaan sosial perusahaan.