TREN.BISNISMARKET.COM - Pergerakan harga minyak mentah dunia menunjukkan penguatan yang sangat tipis pada perdagangan Jumat pagi, tanggal 3 Juli 2026. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya harga sempat menyentuh titik terendah sejak sebelum ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat di akhir Februari lalu.

Para pelaku pasar global saat ini tengah mencermati dengan saksama perkembangan terbaru mengenai upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Keberhasilan diplomasi ini dinilai krusial untuk menjamin kelancaran pasokan energi yang melintasi jalur laut internasional.

Berdasarkan data dari Refinitiv per pukul 09.35 WIB, harga minyak jenis Brent tercatat berada di level US$72,13 per barel, menunjukkan kenaikan sebesar 0,46% dari penutupan hari sebelumnya. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) relatif stagnan di posisi US$68,69 per barel.

Kenaikan pada Brent ini melanjutkan tren positif setelah penutupan hari Kamis yang berada di angka US$71,80 per barel, menegaskan adanya sedikit optimisme yang mulai terakumulasi di pasar komoditas energi.

Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak sepanjang pekan ini menunjukkan stabilitas yang relatif baik. Brent hanya mencatat kenaikan sekitar 0,19% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya, sedangkan WTI justru mengalami sedikit penurunan sekitar 0,78%.

Fluktuasi yang terbatas ini terjadi seiring meredanya volatilitas harga yang sebelumnya dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Harapan pasar kini tertuju pada kemungkinan keberlanjutan kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran.

Dilansir dari Reuters, pelaku pasar memilih sikap hati-hati menjelang periode libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, di mana aktivitas perdagangan diperkirakan akan menurun drastis. Meskipun optimisme perdamaian tetap ada, investor menunggu bukti konkret mengenai stabilitas kawasan tersebut.

Kondisi di Selat Hormuz, yang sebelumnya merupakan jalur vital pengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia harian, kini dilaporkan telah kembali normal dan memungkinkan distribusi energi memulih.

Hal ini didukung oleh peningkatan signifikan dalam sektor pasokan, di mana produksi minyak Kuwait melonjak menjadi 1,65 juta barel per hari pada bulan Juni, jauh meningkat dari hanya sekitar 580 ribu barel per hari pada Mei. Peningkatan ini terjadi pasca-kesepakatan damai sementara AS-Iran yang memungkinkan peningkatan ekspor.