TREN.BISNISMARKET.COM - Sebuah riset terbaru dari agen perekrutan terkemuka, Robert Walters, mengungkap temuan menarik terkait pandangan para profesional di Asia mengenai Kecerdasan Buatan (AI). Temuan ini menyoroti perbedaan signifikan dalam tingkat optimisme di berbagai negara.
Dilansir dari Business Times, para profesional di Singapura dan Hong Kong menunjukkan tingkat optimisme yang jauh lebih rendah dibandingkan rekan-rekan mereka di negara regional lain mengenai dampak AI pada masa depan karier mereka. Hal ini menjadi sorotan utama dalam survei tersebut.
Meskipun tingkat adopsi AI sangat tinggi, dengan 89% profesional di Singapura dan 91% di Hong Kong mengaku telah menggunakannya di tempat kerja, keyakinan positif mereka tidak sejalan. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan antara penggunaan dan persepsi positif.
Hanya 67% pekerja di Singapura dan 66% di Hong Kong yang percaya AI akan membawa dampak positif bagi perkembangan karier mereka. Angka ini menempatkan kedua kota tersebut di posisi terbawah dalam indeks optimisme karier regional di Asia.
Posisi Singapura dan Hong Kong tertinggal jauh di belakang pasar Asia lain seperti China daratan yang memimpin dengan 88% optimisme, diikuti oleh Vietnam (83%), Jepang (80%), dan Taiwan (79%). Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor spesifik di Singapura dan Hong Kong yang memicu kekhawatiran.
"AI secara mendasar mengubah cara kerja dilakukan. Teknologi ini menggeser tugas-tugas rutin ke dalam ranah otomatisasi, sekaligus secara bersamaan menaikkan derajat tanggung jawab manusia untuk fokus pada penilaian kritis dan pengambilan keputusan strategis," ujar Kirsty Poltock, Country Manager Robert Walters Singapura.
Kekhawatiran utama yang memicu kecemasan di kalangan profesional Singapura meliputi risiko kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi massal. Selain itu, potensi bias dalam algoritma AI dan kekhawatiran keterampilan yang segera usang juga menjadi faktor penekan.
Riset ini melibatkan hampir 5.000 profesional dan manajemen perusahaan di 10 pasar utama Asia. Secara makro, 93% profesional di Asia aktif menggunakan AI, dan 58% perusahaan telah mengimplementasikannya dalam operasional tempat kerja mereka.
Fungsi pekerjaan yang paling terdampak oleh AI adalah yang berorientasi pada proses, padat data, atau bersifat operasional. Tiga sektor teratas yang merasakan dampak langsung adalah administrasi dan dukungan bisnis, teknologi informasi (TI) dan transformasi digital, serta akuntansi dan keuangan.