TREN.BISNISMARKET.COM - Pada pertengahan Mei 2026, terjadi pergeseran signifikan dalam aktivitas perdagangan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang ditandai dengan aksi jual bersih oleh investor asing. Periode perdagangan antara 11 hingga 13 Mei 2026 menunjukkan bahwa investor luar negeri mencatatkan net sell dengan total nilai mencapai Rp 390,72 miliar.

Pergantian sentimen pasar ini kontras dengan apa yang terjadi pada pekan sebelumnya, yaitu periode 4 hingga 8 Mei 2026. Pada rentang waktu tersebut, saham emiten bank BUMN ini justru menjadi primadona dengan membukukan net buy dari investor asing senilai Rp 776,24 miliar.

Meskipun mengalami tekanan jual yang cukup besar pada pekan terakhir, secara agregat untuk periode keseluruhan dari 4 hingga 13 Mei 2026, saham BBRI masih mampu mempertahankan posisi positif. Tercatat, dalam rentang sepuluh hari perdagangan tersebut, saham BBRI masih mencatatkan net buy akumulatif sebesar Rp 385,52 miliar.

Pergerakan harga saham BBRI pada penutupan perdagangan hari Rabu, 13 Mei 2026, menunjukkan adanya pelemahan yang cukup signifikan. Harga saham BBRI tercatat merosot sebesar 3,11 persen dan ditutup pada level Rp 3.120 per lembar.

Jika dilihat dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tren pelemahan pada saham berkode BBRI ini telah terakumulasi mencapai angka 7,96 persen. Hal ini menunjukkan adanya koreksi harga yang perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar.

Menghadapi sesi perdagangan awal pekan ini, yaitu hari Senin, 18 Mei 2026, analis teknikal telah merilis proyeksi pergerakan harga saham BBRI. CGS International Sekuritas memberikan panduan mengenai level-level penting yang perlu diwaspadai oleh investor.

Menurut kalkulasi teknikal yang dirilis oleh CGS International Sekuritas, titik kritis batas bawah atau support pertama untuk saham BRI diproyeksikan berada di level Rp 3.090. Sementara itu, titik support kedua diposisikan lebih rendah lagi pada level Rp 3.060.

"Saham BBRI dinilai memiliki peluang untuk berbalik arah melaju positif apabila mampu menyentuh angka pivot di level 3.150," demikian proyeksi yang disampaikan oleh CGS International Sekuritas. Jika level pivot tersebut berhasil ditembus, potensi kenaikan akan menguji level resistance.

Jika skenario positif terjadi, target batas atas atau resistance pertama yang diperkirakan akan diuji adalah di level Rp 3.180. Analis juga mengidentifikasi adanya resistance kedua yang berada pada posisi Rp 3.240 sebagai target jangka menengah.