TREN.BISNISMARKET.COM - Investor kawakan, Lo Kheng Hong, membuat langkah strategis dengan menambah kepemilikan sahamnya pada PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), emiten yang bergerak di sektor ban dan komponen otomotif. Langkah akumulasi ini terjadi pada saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan akibat sentimen global.
Aksi beli yang dilakukan Lo Kheng Hong tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan IHSG pada hari Rabu, 13 Mei 2026. Pada sesi pembukaan hari itu, IHSG tercatat merosot sebanyak 94,95 poin atau 1,38 persen, ditutup pada level 6.763,94.
Penurunan indeks ini merupakan koreksi yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut, utamanya dipicu oleh reaksi negatif pasar terhadap keputusan rebalancing yang dilakukan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan data keterbukaan informasi resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), terjadi peningkatan drastis pada jumlah kepemilikan saham Lo Kheng Hong di GJTL hingga akhir April 2026. Koleksi saham investor senior tersebut kini menyentuh angka 232.792.900 lembar saham.
Angka kepemilikan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan data akhir Maret 2026, di mana kepemilikan Lo Kheng Hong tercatat hanya sebesar 14.760.100 lembar saham saja.
Kenaikan akumulasi saham GJTL ini terjadi meskipun terdapat fluktuasi harga di pasar; misalnya, pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, saham GJTL sempat melemah 10 poin ke level 1.185. Namun, secara tahun berjalan (ytd), saham ini masih menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 11,79 persen atau naik 125 poin.
Strategi pembelian masif oleh Lo Kheng Hong ini memperkuat posisinya sebagai salah satu pemegang saham publik terbesar di GJTL, melampaui ambang batas kepemilikan lima persen. Aksi ini dianggap sebagai sinyal kuat mengenai keyakinan terhadap fundamental perusahaan di tengah volatilitas pasar.
MSCI telah mengumumkan hasil tinjauan periodik mereka pada Rabu pagi, yang dijadwalkan mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Juni 2026. Pengumuman tersebut memuat keputusan dikeluarkannya 19 saham domestik dari berbagai indeks.
Secara spesifik, enam emiten dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, termasuk nama-nama besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).