TREN.BISNISMARKET.COM - Keputusan manajemen Grab Indonesia untuk menutup program langganan akses hemat bagi mitra pengemudi GrabBike mulai memicu kekhawatiran di kalangan pengamat transportasi mengenai dampak ganda di ekosistem layanan ojek daring. Penutupan program ini dikhawatirkan akan secara langsung memengaruhi daya beli konsumen, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan para pengemudi di lapangan.
Pengamat transportasi, Deddy Herlambang, secara spesifik menyoroti potensi penurunan jumlah pengguna layanan ojek online (ojol) sebagai konsekuensi logis dari kebijakan baru ini. Hal ini terjadi karena skema tarif hemat yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi konsumen kini telah dihilangkan atau disesuaikan.
Dilansir dari Megapolitan, kekhawatiran utama terletak pada potensi menurunnya permintaan (demand) layanan meskipun perusahaan mungkin berharap pendapatan per mitra meningkat. Menurut Deddy Herlambang, jika ongkos ojol dianggap menjadi lebih mahal tanpa adanya paket hemat, masyarakat cenderung akan mengurangi frekuensi penggunaan jasa tersebut.
"Pengguna ojol mungkin akan berkurang bila ongkos ojol dianggap mahal karena tiada lagi tarif hemat. Ditutupnya paket hemat pendapatan driver bisa naik tapi demand bisa saja menurun," kata Pengamat transportasi Deddy Herlambang.
Selain isu tarif konsumen, para mitra pengemudi juga masih dibebani oleh struktur komisi yang diterapkan oleh pihak aplikator, yang dinilai masih sangat tinggi dan memberatkan. Situasi pendapatan menjadi semakin tidak pasti pasca penghapusan skema tarif hemat yang sebelumnya memberikan sedikit keringanan.
Deddy Herlambang juga menekankan bahwa persentase potongan komisi yang diterapkan oleh perusahaan aplikator saat ini masih menjadi beban signifikan bagi para pekerja harian di sektor ini. Komisi yang tinggi ini memperparah kondisi ketidakpastian pendapatan yang sudah ada sebelumnya.
"Pemotongan 20 persen memang sangat memberatkan driver," ucap Deddy Herlambang.
Lebih lanjut, kondisi persaingan di jalanan diperkirakan akan semakin ketat karena tidak adanya regulasi yang mengatur batasan atau kuota jumlah pengemudi yang bisa bergabung dengan layanan tersebut. Hal ini berarti penutupan program hemat belum tentu menjamin peningkatan kesejahteraan para pengemudi.
"Belum tentu dengan ditutupnya paket hemat pendapatan driver membaik karena kemungkinan pengguna berkurang dan driver bertambah akibat tanpa pembatasan atau kuota driver," katanya.