TREN.BISNISMARKET.COM - Pada perdagangan hari Rabu, 6 Mei 2026, nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berhasil mengapresiasi sebesar 0,03% dan ditutup pada level Rp17.405 per dolar AS pada pukul 11.27 WIB.

Pergerakan positif ini melanjutkan pembukaan perdagangan yang lebih optimistis, di mana rupiah sempat menguat 0,34% ke posisi Rp17.350 per dolar AS. Penguatan ini merupakan pemulihan setelah sehari sebelumnya rupiah ditutup melemah 0,26% ke level Rp17.410 per dolar AS.

Di pasar global, indeks dolar AS atau DXY, yang berfungsi sebagai pengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau mengalami penurunan. Indeks tersebut turun 0,21% ke level 98,234 pada pukul 09.00 WIB, memberikan sedikit ruang bagi mata uang Garuda untuk menguat.

Dilansir dari CNBC Indonesia, para analis mulai mengkaji bagaimana fluktuasi nilai tukar ini berkorelasi dengan kondisi pasar saham domestik. Hubungan antara pelemahan rupiah dan IHSG dinilai kompleks dan tidak selalu terjadi secara linier.

Lukman Leong, Analis dari Doo Financial Futures, menyoroti peran arus dana asing keluar (capital outflow) sebagai salah satu pemicu pelemahan rupiah. "Karena sedikit banyak dana asing yang keluar dari pasar modal memberikan kontribusi pada pelemahan rupiah," ujar Lukman Leong saat dihubungi CNBC Indonesia pada Rabu (6/5/2026).

Lebih lanjut, pelemahan mata uang domestik dapat memiliki dampak ganda bagi investor asing. "Dari sisi investor asing tentunya pelemahan rupiah membuat harga saham-saham di Indonesia yang sudah turun akan semakin murah dalam dollar," tambah Lukman Leong.

Namun, Lukman mengingatkan bahwa investor tidak boleh menjadikan pelemahan rupiah sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi. Ia menekankan bahwa emiten yang memiliki penerimaan dalam mata uang dolar AS akan menjadi lebih menarik bagi investor.

"Saat ini banyak saham yang sudah oversold dan menarik, investor domestik bisa mendukung IHSG," sebut Lukman Leong, mengindikasikan adanya potensi dukungan dari investor lokal meskipun sentimen global sedang bergejolak. Ia juga menambahkan bahwa perhatian investor saat ini tertuju pada prospek status pasar dari MSCI dan FTSE serta kemungkinan rebalancing indeks.

Sementara itu, Herditya, Analis dari MNC Sekuritas, mengidentifikasi faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi pelemahan rupiah. Menurutnya, konflik yang terjadi di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu investor memilih dolar AS sebagai mata uang yang dianggap relatif aman.