TREN.BISNISMARKET.COM - Korea Utara kembali menegaskan sikapnya yang teguh terhadap pengembangan senjata nuklir, menolak segala bentuk seruan denuklirisasi. Pernyataan ini disampaikan oleh Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un.
Senjata nuklir negara itu digambarkan secara eksplisit sebagai "perisai utama" yang menjamin kedaulatan nasional dan keamanan negara. Penegasan ini muncul di tengah kekhawatiran internasional yang semakin meningkat.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Kim Yo Jong pada hari Senin (27/7). Melalui kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA), ia merujuk pada Korea Utara dengan nama resminya, Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK).
"Sikap DPRK sangat tegas dan jelas bahwa penangkal nuklir adalah perisai utama bagi kedaulatan nasional dan jaminan tertinggi untuk membela kedaulatan," jelas Kim Yo Jong. Pernyataan ini menegaskan komitmen negara tersebut terhadap kekuatan militernya.
Pernyataan Kim Yo Jong ini merupakan respons langsung terhadap forum ASEAN Regional Forum. Para menteri luar negeri yang hadir dalam forum tersebut sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan denuklirisasi Semenanjung Korea.
Menurut Kim Yo Jong, status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir adalah sebuah kenyataan yang "final dan tidak dapat diubah". Ia menekankan bahwa kemampuan nuklir negara itu akan terus ditingkatkan tanpa henti.
"Status DPRK sebagai negara bersenjata nuklir adalah final dan tidak dapat diubah, serta kemampuan nuklir negara itu akan terus diperbarui secara berkelanjutan tanpa sedikit pun mengalami stagnasi," tegas Kim Yo Jong.
Munculnya penegasan sikap Korut ini bertepatan dengan peringatan yang disampaikan oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Zelenskyy menyatakan adanya dugaan Rusia berencana mendapatkan tambahan personel militer dan peluncur rudal balistik dari Korea Utara.
"Sejak Juni, persiapan telah dilakukan di wilayah Voronezh, Rusia, untuk menerima mereka," ujar Zelenskyy, meskipun ia tidak merinci sumber informasi tersebut. Pernyataan Zelenskyy ini menambahkan dimensi baru pada kompleksitas hubungan internasional Korea Utara.