TREN.BISNISMARKET.COM - Kondisi pasar keuangan di Indonesia saat ini terlihat mengalami tekanan, meskipun pemerintah secara konsisten menyampaikan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap berada dalam posisi yang kuat. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai sinkronisasi antara klaim resmi dan realitas yang dirasakan pelaku pasar.

Ekonom senior, Raden Pardede, memberikan pandangannya mengenai perbedaan mencolok antara optimisme fundamental ekonomi makro dengan kondisi pasar keuangan yang tengah terpuruk. Menurutnya, perbedaan ini sangat erat kaitannya dengan adanya jeda waktu atau yang dikenal sebagai data lag dalam perekonomian.

"Jadi memang fundamental ekonomi kita terlihat kuat karena ada lag yang biasanya baru bisa rasakan 3-6 bulan atau maksimum 9 bulan," kata Raden saat menghadiri acara KONEKSI CNBC Indonesia, yang disiarkan pada Jumat (12/6/2026).

Raden menjelaskan bahwa dampak dari kenaikan harga barang atau pelemahan nilai tukar mata uang tidak akan langsung terlihat pada data ekonomi pada hari yang sama. Dampak riil dari perubahan tersebut baru akan terefleksikan dalam periode waktu tertentu di masa mendatang.

"Jadi, apa yang kita lihat harga-harga yang sudah naik kemudian perlambatan dari kurs yang melemah, dampaknya itu tidak serta-merta langsung hari itu juga, tapi nanti," lanjutnya, menekankan perlunya kesabaran dalam mengamati pemulihan ekonomi.

Ia memberikan contoh spesifik mengenai kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang telah dinaikkan. Kenaikan suku bunga ini diprediksi akan memengaruhi keputusan investasi di masa depan, bukan sekadar dampaknya saat ini.

"Contohnya juga sekarang dinaikkan interest rate (BI Rate), suku bunga SRBI sudah naik. Itu berarti akan berpengaruh kepada investasi berikutnya, meskipun sekarang belum, dan yang lalu-lalu belum. Tapi dampaknya baru terasa nanti. Itu akan menggigit beberapa bulan kemudian," jelas Raden Pardede.

Terkait dengan inflasi, meskipun data terbaru mungkin belum menunjukkan lonjakan signifikan, ekspektasi pasar sudah mulai menyesuaikan diri berdasarkan kenaikan harga komoditas yang sudah terjadi. Hal ini menjadi sinyal penting bagi pengambil kebijakan.

"Belum kelihatan indikator kepada inflasi secara signifikan. Tetapi ekspektasi dari pelaku pasar itu sudah bermain. Ini ke sana tuh nantinya," terangnya, merujuk pada proyeksi inflasi di periode berikutnya akibat kenaikan harga saat ini.