TREN.BISNISMARKET.COM - Perekonomian Indonesia telah mengalami transformasi besar dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, ditandai dengan pesatnya perkembangan ekonomi digital dan kemajuan teknologi informasi. Perubahan perilaku masyarakat pascapandemi turut membentuk struktur usaha yang berbeda dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Kondisi dinamis ini mengharuskan Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki data yang sangat mutakhir dan komprehensif sebagai landasan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, BPS menyelenggarakan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), yang merupakan sensus ekonomi kelima sejak tahun 1986.
Tujuan utama SE2026 adalah memotret secara menyeluruh seluruh aktivitas ekonomi yang ada di Indonesia. Data akurat ini penting sebagai dasar untuk merumuskan perencanaan dan kebijakan pembangunan yang lebih efektif ke depan.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan perlunya penyesuaian dalam pendataan untuk merekam berbagai perubahan struktural tersebut dalam statistik nasional.
"Dalam 10 tahun terakhir, aktivitas ekonomi mengalami banyak perubahan, baik dari cara bertransaksi, skala usaha, maupun nilai ekonomi yang diciptakan. Perubahan-perubahan seperti ini perlu kita rekam dan tergambar dalam statistik yang BPS hasilkan," jelas Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (27/6).
Pelaksanaan SE2026 mencontoh praktik negara-negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Tiongkok, India, dan Meksiko, yang rutin melakukan sensus ekonomi. Tujuannya adalah untuk memahami secara mendalam evolusi dunia usaha sebagai pondasi penyusunan kebijakan ekonomi.
Pendataan lapangan SE2026 akan dilaksanakan secara door to door mulai tanggal 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 mendatang. Berbeda dari edisi sebelumnya, sensus kali ini tidak hanya fokus pada pelaku usaha, tetapi juga mencakup unit rumah tangga, mengingat peran vitalnya dalam ekosistem perekonomian nasional.
Amalia membandingkan pentingnya sensus ini dengan pemeriksaan medis yang harus dilakukan secara menyeluruh untuk memahami kondisi sesungguhnya. "Sensus ekonomi ini ibarat rekam medis. Saat melakukan rekam medis, kita harus periksa semua aspek secara menyeluruh agar paham kondisi yang sebenarnya, sehingga pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang tepat. Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 ini telah dipersiapkan cukup lama, yaitu sejak tahun 2024, jadi bukan tiba-tiba," jelas Amalia.
Hasil SE2026 akan menyajikan informasi strategis mengenai karakteristik pelaku usaha seluruh skala, termasuk potensi dan kontribusi UMKM, peta sebaran usaha, hingga kondisi ekonomi rumah tangga. Data ini krusial bagi pemerintah dalam menyusun program, sekaligus menjadi panduan bagi pelaku usaha untuk strategi bisnis dan investasi.