TREN.BISNISMARKET.COM - Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pelonggaran aturan emisi karbon kendaraan telah menimbulkan dampak signifikan bagi industri otomotif global, khususnya Honda. Perubahan kebijakan ini secara langsung memicu kerugian finansial bagi produsen otomotif raksasa asal Jepang tersebut untuk tahun fiskal 2025.

Peristiwa ini menandai momen bersejarah yang sangat jarang terjadi bagi Honda, di mana perusahaan tersebut pertama kali mencatatkan kerugian dalam kurun waktu 70 tahun terakhir, yakni sejak tahun 1955. Hal ini dikonfirmasi berdasarkan perkembangan situasi keuangan terbaru perusahaan.

Pergeseran regulasi di Amerika Serikat ini membatalkan arah investasi besar-besaran yang sebelumnya telah dilakukan oleh produsen mobil, termasuk Honda, untuk pengembangan kendaraan listrik (EV). Investasi tersebut didorong oleh kebijakan administrasi sebelumnya yang ketat terhadap emisi.

Saat pemerintahan Joe Biden berkuasa, terdapat pengetatan aturan emisi yang signifikan, disertai dengan insentif berupa kredit pajak pembelian EV hingga mencapai US$ 7.500 atau setara sekitar Rp 131.970.000, menggunakan kurs saat itu Rp 17.596 per dolar AS.

Namun, administrasi Trump kemudian membalikkan kebijakan tersebut dengan membatalkan aturan emisi yang ketat dan menghapus sanksi finansial bagi para pelanggar kebijakan. Hal ini mendorong Honda dan produsen lainnya untuk kembali memprioritaskan penjualan truk dan SUV konvensional yang menggunakan mesin bensin.

Perubahan fokus strategis yang mendadak ini berdampak buruk pada nilai investasi yang telah dikeluarkan Honda untuk teknologi ramah lingkungan. Akibatnya, Honda melaporkan penurunan nilai laba sebesar 1,6 triliun yen, yang mendekati angka US$ 10 miliar.

Setelah akumulasi potensi keuntungan tahunan sebesar US$ 7,4 miliar, raksasa otomotif Jepang ini akhirnya menderita kerugian bersih total yang mencapai 403,3 miliar yen, setara dengan US$ 2,6 miliar. Dikutip dari Detik Finance pada Sabtu (16/5/2026), disebutkan bahwa Honda memperkirakan adanya penurunan nilai tambahan pada investasi EV di tahun fiskal berjalan.

"Honda juga mengindikasikan bahwa mereka memperkirakan ada penurunan nilai tambahan pada investasi kendaraan listrik sebelumnya di tahun fiskal berjalan, meskipun tidak cukup untuk menyebabkan kerugian lagi," demikian bunyi keterangan yang dilansir dari media tersebut.

Dampak dari pembalikan kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh produsen otomotif asing seperti Honda. Sejumlah perusahaan otomotif terkemuka asal Amerika Serikat juga mengalami pukulan finansial yang signifikan akibat pengurangan fokus pengembangan EV.