TREN.BISNISMARKET.COM - Kinerja sektor manufaktur di kawasan Asia Tenggara menunjukkan dinamika yang kontras memasuki paruh kedua tahun 2026. Sebagian besar negara anggota ASEAN masih mencatatkan ekspansi, namun Indonesia justru mengalami kemunduran signifikan ke zona kontraksi pada periode Juni 2026.
Hal ini terungkap dari rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur ASEAN oleh S&P Global untuk bulan Juni 2026. Secara agregat, PMI Manufaktur ASEAN berada di angka 50,5, menunjukkan pertumbuhan yang masih terjadi meski sedikit melambat dari capaian Mei yang mencapai 51,5.
Perlu dicatat bahwa nilai PMI di atas 50 menandakan adanya ekspansi atau pertumbuhan sektor manufaktur, sementara nilai di bawah 50 mengindikasikan kontraksi atau perlambatan aktivitas.
Menurut analisis S&P Global, data bulan Juni mengindikasikan adanya peningkatan yang minor dalam kondisi sektor manufaktur di kawasan Asia Tenggara. Disebutkan pula bahwa peningkatan ini merupakan salah satu yang terbesar sejak kondisi bisnis mulai membaik pada Juni 2025.
Jika dilihat berdasarkan kinerja masing-masing negara, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina berhasil mempertahankan posisinya di zona ekspansif pada Juni 2026. Thailand memimpin dengan skor tertinggi di antara negara-negara tersebut.
Secara rinci, Thailand mencatatkan PMI Manufaktur sebesar 53,6, menunjukkan momentum pertumbuhan yang kuat. Vietnam menyusul di posisi kedua dengan PMI 51,8, sementara Filipina berada di angka 50,9, diikuti oleh Malaysia dengan skor 50,7.
Sebaliknya, Indonesia menghadapi tantangan berat karena PMI Manufaktur periode Juni 2026 anjlok ke level 46,9, turun drastis dari posisi stabil 50,0 pada bulan Mei. Bahkan, Indonesia tertinggal dari Myanmar yang berada di zona kontraksi dengan skor 47,4.
"Kinerja sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan dua kali dalam tiga bulan terakhir yang menutup semester pertama tahun 2026. Tingkat penurunan ini merupakan yang paling kuat dalam setahun terakhir, disebabkan oleh pesanan baru yang kembali menurun sehingga menyebabkan volume output mengalami penurunan terbesar sejak April 2025," ujar Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, dalam keterangannya pada Rabu (1/7/2026).
S&P Global mengidentifikasi bahwa penyebab utama penurunan tajam PMI manufaktur Indonesia adalah melemahnya permintaan barang manufaktur dari dalam negeri. Tercatat, jumlah pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dan terjadi pada laju tercepat dalam kurun waktu setahun terakhir.