TREN.BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan akan menunjukkan tren penguatan pada perdagangan hari Selasa, 5 Mei 2026. Rentang pergerakan yang diperkirakan berada di antara level 6.905 hingga mencapai puncaknya di 7.048.
Pergerakan positif ini terjadi walau pasar domestik dibayangi oleh fluktuasi pasar global dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen investor.
Analisis teknikal menunjukkan adanya sinyal optimis untuk indeks acuan tersebut. Indikator Stochastic terpantau mengalami golden cross di area deep oversold, mengindikasikan potensi pembalikan arah harga ke atas.
Meskipun demikian, terdapat catatan bahwa candle penutupan terakhir indeks menunjukkan pola small black spinning top yang berada di bawah level rata-rata pergerakan (MA5 dan MA20).
"Dengan pola ini terbuka peluang kenaikan IHSG dengan saham pilihan ICBP, INDF, ENRG, dan ESSA," tulis analis dalam riset dari Reliance Sekuritas. Rekomendasi ini menekankan pada saham-saham spesifik yang dianggap paling prospektif.
Sentimen negatif dari bursa Wall Street, yang mayoritas ditutup melemah, turut memberikan pengaruh pada pergerakan indeks di dalam negeri. Pelemahan global ini dipicu oleh ketegangan pasca insiden penembakan misil oleh Iran ke kapal Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Dilansir dari Investortrust, analisis teknikal tersebut menjadi dasar bagi proyeksi kenaikan IHSG. Investor disarankan mencermati saham-saham unggulan yang direkomendasikan untuk memanfaatkan momentum penguatan ini.
Saham-saham pilihan tersebut memiliki target harga spesifik, seperti ICBP yang ditargetkan mencapai Rp 7.800, sementara INDF dipatok pada Rp 7.825. Selain itu, ENRG diincar pada Rp 1.950 dan ESSA ditargetkan menyentuh Rp 990.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG berhasil ditutup menguat tipis sebesar 15,15 poin atau 0,22 persen, berakhir di level 6.971,95. Aktivitas investor asing tercatat positif dengan membukukan net buy senilai Rp 1,92 triliun.